Senin, 23 November 2009


Kenali Tanda Stress Pada Anak

PoorBest
Written by Fathimah Ummu Abdillah


Stress..siapa yang tidak kenal dengan kata yang satu ini?? Pernahkah anda semua mengalaminya? Seberapa sering? Lalu apa yang dimaksud dengan stress itu sendiri?

Pada dasarnya stress merupakan suatu kondisi yang tidak enak / seimbang akibat adanya suatu rangsangan dari luar dirinya , dimana pada nantinya orang tersebut akan segera berusaha mengatasinya untuk mencapai keadaan seimbang yang membuat nyaman dirinya seperti sediakala. Namun, bila seseorang ini gagal mengatasinya maka orang tersebut akan mengalami suatu penderitaan, yakni penderitaan psikisnya.



Dalam kehidupan sebenarnya stress juga diperlukan. Mengapa? Dengan adanya stress dalam kehidupan diharapkan seseorang itu dapat belajar sejak dini bagaimana cara mengatasinya (segala masalah yang menjadi beban bagi dirinya) sehingga dapat terus bertahan dalam menghadapi cobaan hidup.

Sebenarnya ada berbagai macam sumber stress dalam kehidupan manusia. Sumber stress tersebut antara lain dapat berupa kondisi frustasi (kekecewaan), konflik, tekanan atau krisis.

Seperti halnya orang dewasa, anak-anakpun dapat mengalami stress. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak balita bisa stress yang bila tidak diatasi dengan baik akan berdampak pada perkembangan si anak selanjutnya.

Masa balita merupakan masa emas, terutama 3 tahun pertama karena pada masa ini terjadi perkembangan synoptogenesis (pembentukan hubungan antar sel otak) yang optimal, sehingga perlu diberi rangsangan yang adekuat (cukup dan tepat) untuk tumbuh kembang si anak. Adapun fase perkembangan anak tersebut yakni,

1. Fase basic trust vs mistrust (usia 0 -1,5 tahun)

Pada fase ini bayi mutlak bergantung pada orang lain, ia perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya dalam lingkungan yang serba tidak menentu dan asing, Ia harus dilindungi untuk memperoleh “rasa aman” atau semacam rasa percaya pada lingkungan barunya. Rasa akan “keamanan dan kepercayaan” ini sangat penting dan akan menjadi dasar hubungannya dengan lingkungan di kemudian hari. Oleh karenanya diperlukan pengelolaan fisik yang menyenangkan dan sedikit mungkin pengalaman.

2. Fase autonomy vs shame and doubt (usia 1,5 – 3 tahun)

Dengan bertambah matangnya alat gerak dan rasa kemampuan diri, anak akan mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakan untuk suatu maksud yang didasari adanya rasa aman dan percaya diri. Pada fase ini anak lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Anak perlu dibantu oleh lingkungan dengan sikap tegas, menenangkan serta menentramkan. Gangguan dalam tercapainya rasa otonomi diri akan berakibat bahwa anak akan dikuasai rasa malu dan ragu-ragu.

3. Fase inisiative vs guilt (usia 3 – 6 tahun)

Pada fase ini anak akan mulai belajar mengendalikan diri serta memanipulasi lingkungan. Setelah dasar – dasar rasa percaya diri dan otonomi, anak seolah-olah siap untuk meluaskan lingkup geraknya dari dunia disekitarnya. Hal tersebut dikuatkan pula dengan meningkatnya kemampuan bahasa dan kemampuan geraknya. Pada fase ini, umumnua si anak memiliki sifat rasa ingin tau, bertanya macam-macam, menirukan aktifitas di sekitarnya, dan melakukan sesuatu tugas tertentu seolah untuk mendapatkan rasa kebiasaan diri. Pada fase ini tokoh ayah mulai berperan penting bagi anak, kedua orang tua harus bekerja sama untuk membantu perkembangan ini, peranan orang tua sebagai ayah dan ibu penting untuk memberikan kemantapan dalam identitas diri anak, membentuk pola peranan seksual yang menyiapkan anak ke arah kematangan seksual yang wajar, serta melatih anak ke arah integrasi peranan-peranan sosial dan tanggung jawab sosial yang wajar di kemudian hari.

4. Fase industry vs inferiority (usia 6 – 12 tahun)

Pada fase ini anak mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan tugas / perbuatan yang berarti kemampuan menghasilkan sesuatu merupakan dorongan utama dalam dirinya. Anak siap meninggalkan orang tua / rumah dalam waktu terbatas untuk menuntut ilmu, belajar di sekolah. Gangguan pada fase ini adalah yang menghambat tercapainya rasa mantap, kepuasan akan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu akan mengakibatkan anak diliputi rasa kekurangan diri ataupun rasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu..

5. Fase identity vs role diffusion (usia 12 – 18 tahun)

Merupakan fase terakhir masa anak sebelum memasuki masa dewasa. Dalam masa menuju kedewasaan, remaja mengalami perubahan fisik dan kejiwaan yang penting. Remaja disatu pihak dianggap sudah mempu menguasai dan meninggalkan berbagai masalah anak-anak, untuk siap memasuki kedewasaan. Secara biologis remaja memiliki kemampuan orang dewasa, namun secara psikososial mereka belum mendapatkan hak untuk menggunakan kemampuannya itu. Mereka sering bertanya “siapa aku ini”, “apa aku ini”, “apa jadinya aku nanti”. Hal tersebut merupakan hal yang pokok dan cerminan problem identitas diri. Mereka berusaha mencari identitas di bidang seksual, umur, dan okupasional. Mereka bereksperimen dengan berbagai pola identitas alternatif lainnya, sebelum ia dengan lebih pasti dapat menentukan pilihan. Sehingga sering terjadi krisis identitas pada akhir masa remaja.

Stress pada anak (terutama balita) sering kali tidak dikenal oleh orangtuanya. Keadaan stress pada anak dapat digambarkan dengan keadaan si anak seperti sakit-sakitan, cengeng / rewel atau dicap anak nakal / bandel bila tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma atau aturan.

Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk dapat secara dini menangani permasalahan pada anak yang nantinya akan mungkin menimbulkan stress pada anak tersebut. Dengan demikian, merupakan hal yang tidak kalah penting bagi orangtua untuk lebih memperhatikan perkembangan si anak dan juga pengenalan stress pada anak sejak dini, sehingga stress yang terjadi pada anak dapat segera ditangani, karena bila diatasi secara cepat, tepat dan benar akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak selanjutnya.

Lalu..apa sajakah manifestasi (gambaran akibat) bagi anak yang mengalami stress??

Bagi Anak Balita manifestasi ini dapat berupa :

• Rewel, ketakutan, ingin melekat pada ibu

• Terlambat bicara

• Problem makan : susah sekali makan, tidak mau makan

• Problem tingkah laku: sikap menentang dan keras kepala

• Enuresis (ngompol) dll.



Anak 6 – 12 th

• Tidak mau sekolah

• Kesulitan belajar: tidak bisa konsentrasi

• Kurang kemauan / insiatif, merasa ketakutan

• Bohong, mencuri

• Hyperaktif,dll.



Anak Remaja

• Sakit-sakitan (keluhan fisik)

• Problem tingkah laku (kenakalan remaja)

• Ketakutan atau khawatir, rasa malu

• Mudah tersinggung

• Kesulitan belajar atau tidak bisa konsentrasi

• Malas belajar

• Ketergantungan obat, dll.



Setelah mengetahui berbagai problem dan manifestasi stress pada anak dengan berbagi tahapan usia, berikut merupakan cara penanganan mudah stress pada anak yang dapat dilakukan oleh orangtua yakni :

1. Memperhatikan faktor anak.

Lingkungan terutama orang tua yaitu ibu dan interaksi antara ibu - anak, sehingga perlu dilakukan pendekatan biopsikososial. Bila kondisi jiwa tergolong berat, perlu diberi obat-obatan untuk mengendalikan perilaku dan emosi anak.



2. Mencari akar permasalahan suatu gejala stress, misalnya anak malas belajar.

Dalam hal ini keumuman dari orangtua hanya melihat faktor malasnya saja, padahal malasnya disebabkan oleh kondisi depresi akibat tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya mendapat ranking. Dan hendaknya, hal ini perlu diperhatikan oleh orangtua.

3. Penanganan cepat dan tepat sejak dini.

4. Tiap anak akan berbeda pendekatannya karena anak adalah manusia yang unik, maka pendekatannya juga unik.



Pada prinsipnya, penanganan stress pada anak dapat pula dilakukan dengan berbagai cara yang mudah mudah dibawah ini antara lain :

- Latihan bernafas bagi anak (relaksasi). Hal ini untuk menciptakan rasa relaks dan menghilangkan kecemasan yang mungkin dirasakan.

- Suruhlah anak-anak untuk menggambar sesuatu hal yang disenangi oleh mereka. Hal ini secara tidak langsung dapat melukisakan bagaimana perasaan mereka saat itu.

- Bermain-main dengan teman, mainan kegemarannya ataupun bermain dengan binatang peliharaannya. Hal ini dapat melupakan sejenak segala tekanan yang dirasakannya.

- Mengajarinya untuk senantiasa berfikir positif terhadap segala hal yang dilakukannya dan memberi support penuh dengan apa yang sedang dilakukannya.

- Hal yang plaing pentinga dalah meumbuhkan kepercayaan dirinya. Meyakinkan bahwa dia dapat melakukan sesuatu hal yang bermanfaat, tentunya dengan dorongan dan support dari lingkungan keluarga khususnya dan lingkungan sekitarnya.

Penanganan stress pada anak tidak hanya terpusat pada si anak saja, tetapi hendaknya orangtua juga berperan aktif dalam mengembalikan kondisi nyaman bagi si anak tersebut. Lalu..apa saja yang harus dilakukan orangtua dalam penanganan stress anak tersebut? Para orangtua hendaknya memperhatikan hal-hal dibawah ini,

1. Harus mampu memberi kasih sayang, karena anak membutuhkannya, sehingga tercipta suasana lingkungan yang aman dan damai.

2. Peka dan responsif akan kebutuhan anak.

3. Bersikap hangat , tegas dan respek terhadap anak.

4. Mampu berempati.

5. Terima anak apa adanya, karena setiap anak punya kemampuan yang perbea, punya keunikan yang berbeda dari anak yang lain.

6. Memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaannya.

7. Memberi dorongan pada anak untuk melakukan sesuatu dan beri pujian atau penghargaan.

8. Melatih anak mandiri, berikan kpercayaan pada anak untuk melakukan apa yang bisa dia kerjakan sendiri tentunya dengan tetap mengawasi mereka.

9. Melatih nilai agama, etika-moral sejak dini.

10. Memberi contoh pada sikap / perbuatan.

11. Sikap ibu dan ayah harus sejalan, jangan membingunkan si anak.

12. Merangsang anak sesuai kemampuan dan tahap perkembangan jiwa anak dalam suasana yang menyenangkan seperti bermain sambil belajar.

Wallohu Ta’ala A’lam...



~ paper psikiatri, catatan kecil blok saraf~

Sabtu, 21 November 2009

Tepatlah Wahai Ukhti Sayang


Ukhti muslimah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam memang tidak mewajibkan kita kaum muslimah untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid acapkali adzan shalat fardhu berkumandang, tidak halnya dengan seorang lelaki yang diwajibkan untuk memenuhi seruan adzan. Bahkan dalam hadits dibawah nanti kita sebagai muslimah dapat melihat bahwasanya shalat dirumah lebih memiliki keutamaan bagi para wanita.

Namun bagi para wanita yang ingin melaksanakan shalat berjamaah pun diperbolehkan asalkan tidak menimbulkan fitnah diantara kaum pria dan di lingkungannya. Dan itulah yang dahulu dilakukan oleh para shahabiyah ‘alayhim jami’an. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radliyallahu ‘anha mengabarkan : “Mereka wanita-wanita Mukminah menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka hingga mereka (selesai) menunaikan shalat tanpa ada seorangpun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (HR. Bukhari 578).

Tidak diperbolehkan bagi muslimah untuk shalat berjamaah sedangkan padanya terdapat fitnah semacam berpakaian yang dapat memancing ghibah baik para pria ataupun diantara sesama wanita. Sebab acapkali muslimah yang mengikuti shalat berjamaah karena sedikitnya ilmu diantara mereka, berpakaian belum tertutup dengan rapi, terlebih lagi menggunakan wewangian apapun macamnya. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah yakni: “Setiap wanita yang memakai wangi-wangian, maka jangan hadir shalat Isya’ bersama kami.” (HR. Muslim I No 328). Dan dalam riwayat yang lain dikatakan pula: “Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba Allah yang perempuan untuk (pergi ke) masjid-masjid Allah, namun (inga) hendaklah mereka berangkat (ke masjid) tanpa memakai parfum.” (Hasan Shahih: Shahih Abu Daud no 529).

Sebab memang seharusnya ukhti menjadikan rumah-rumah sebagai tempat yang lebih utama dalam menegakkan kewajiban mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shalallhu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan kepada salah seorang wanita yang bertanya kepada beliau, dari Ummu Humaid as-Saidiyah bahwa ia pernah datang kepada Rasulullah seraya berkata: “Ya Rasulullah, sejatinya saya ingin shalat bersamamu.” Jawab beliau, “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau ingin sekali shalat bersamaku, namun shalatmu dirumahmu lebih baik daripada shalatmu didalam kamarmu, shalatmu didalam kamarmu lebih baik daripada shalatmu di kampungmu, shalatmu dikampungmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu dimasjid kaummu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjidku.” (Hasan dalam Fathur Rabbani oleh Abdurrahman Albanna V:198 No 1337 dan Shahih Ibnu Khuzaimah III: 95 No: 1689)

Begitu pula bagi seoorang muslimah yang telah bersuami pun dibolehkan shalat berjamaah dengan meminta izin kepada suaminya, dan hendaklah bila kondisinya aman para suami mengizinkan istri-istri mereka untuk menghadiri shalat berjamaah tersebut. Penjelasan ini ialah sebagaimana dalam riwayat, “Apabila wanita (istri) salah seorang dari kalian meminta izin untuk ke masjid maka janganlah ia mencegahnya.” (HR. Bukhari 2/347 dalam Fathul Bari, Muslim 442, dan Nasa’i 2/42) dan juga dalam hadits, Salim bin Abdullah bin Umar menceritakan bahwasanya Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian melarang istri-istri kalian dari masjid bila mereka meminta izin untuk mendatanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim 442 dan hadits yang disebutkan disini menurut lafadh Muslim).

Wanita Muslimah dan Shalatnya

Akan tetapi bagi yang menginginkan shalat dirumah hendaklah wanita muslimah melaksanakannya tepat pada waktunya. Seringkali masa kini kita menemukan, karena memang tidak diwajibkannya berjamaah sebagaimana pria. Kaum muslimah justru terlihat menyepelekan dan memudah-mudahkan urusan shalat ini. Diantara mereka banyak yang menunda-nunda waktu shalat untuk tidak dikerjakan tepat pada waktunya tanpa alasan yang tidak disyariatkan. Alasan-alasan yang justru malah terlihat menggampangkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada seluruh hambaNya. Sebagaimana Allah berfirman:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (An-Nisa`: 103) dan dalam firmannya yang lain yakni sebuah anjuran agar menepati shalat pada waktunya ialah “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat.” (Al-Isra`: 78).

Sebuah kondisi yang memang sangat memprihatinkan. Sebagian besar lebih hobi untuk berlama-lama di depan televisi memantau jalannya sinetron yang sayang bila dilewatkan satu episode atau bahkan satu adegan. Ada pula yang justru lebih rutin menyambangi pusat perbelanjaan dan lebih mengutamakan hal yang demikian dan lantas diantara mereka menjadikan shalat tidak diurutan prioritas akan tetapi shalatnya dilaksanakan pada ujung-ujung waktu saat shalat sebentar lagi habis waktunya. Dan setelah diujung waktu, shalatnya tidak dilakukan dengan khusyuk, lebih terburu-buru dan menjaga wudhu untuk mengejar shalat selanjutnya.

Sebuah musibah yang sangat memprihatinkan pula, para muslimah yang seharusnya tempat mereka dirumah, namun lebih memilih bekerja. Sedangkan ketika bekerja adakalanya diantara mereka rapat dengan banyak pria merumuskan dan memutuskan ini-itu, akan tetapi merasa tidak punya beban akan shalatnya yang berada di ujung waktu. Mereka wanita muslimah lebih terpaku pada beban pekerjaannya dan terlupa akan beban kewajibannya sebagai hamba Allah. Sungguh mengenaskan, jika slogan-slogan bahwasanya ibu madrasah pertama, dan wanita ialah tulang punggung bangsa, sangat miris sekali bila apa yang disaksikan tidak sama dengan apa yang dislogankan. Kosong tanpa arti dan memiliki duri yang dapat menyakiti. Cacatlah bangsa ini jika sebagian besar wanita telah lari dari menunaikan kewajiban shalat tepat pada waktunya sedangkan udzurnya tidak syar’i. itulah mengapa seorang wanita dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dengan, “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)”

Tepat Waktulah Ukhti

Rasulullah shalallhu ‘Alayhi wa sallam bersabda soal waktu-waktu shalat, “Sesungguhnya shalat itu memiliki awal dan akhir waktu. Awal waktu shalat zhuhur adalah saat matahari tergelincir dan akhir waktunya adalah ketika masuk waktu ashar. Awal waktu shalat ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya saat matahari menguning. Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk. Awal waktu shalat isya adalah saat ufuk tenggelam dan akhir waktunya adalah pertengahan malam. Awal waktu shalat fajar adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya saat matahari terbit.” (HR. At-Tirmidzi no. 151)

Maka dengan ini, sebagai saudaramu mengajak agar marilah kita melaksanakan shalat tepat pada waktunya jika tak ada udzur yang mendesak ataupun sedang berhalangan bulanan ataupun nifas. Janganlah kelalaian-kelalaian kita justru malah menjadikan kita sebagai insan-insan yang dzhalim di sisi Allah Ta’ala. Kewajiban itu ialah harus dilaksanakan tepat waktu. Bukankah kita muslimah lebih senang bila Allah mengabulkan doa kita pada saat itu juga kita meminta? Bukankah pula kita sangat bahagia dan senang saat uang bulanan diberikan oleh suami tepat pada waktunya? Bukankah pula kita juga sangat senang bila orang tua memberikan uang saku lebih cepat dari apa yang biasa kita terima biasanya dan melebihkan jatahnya?

Lalu mengapa kita tidak menjadikan diri kita untuk senang mensyukuri nikmat Allah saat pergantian waktu-waktu shalat dengan melaksanakan tepat pada waktunya? Bukankah Allah Maha Pemurah dan Pemberi apa yang kita minta jika kita senantiasa takwa kepadanya dan bersegera mengerjakan amalan-amalan yang dapat mendatangkan ridha-Nya.

Sungguh menyepelekan shalat dengan menunda-nunda tanpa alasan syari ialah sebuah kelalaian kita terhadap sang Maha Pemberi Nikmat atas hambanya. Shalatlah tepat waktu, sebab banyak dalil umum yang memerintahkan seorang muslim baik pria ataupun wanita untuk melaksanakannya tepat waktu. Sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang ditanyakan oleh Ibnu Mas’ud kepada Rasulullah, “Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian amalan apa?” tanya Ibnu Mas`ud. “Berbuat baik kepada kedua orangtua,” jawab beliau. “Kemudian amal apa?” tanya Ibnu Mas’ud lagi. “Jihad fi sabilillah,” jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 248)

Sebaliknya, bila shalat telah disia-siakan untuk dikerjakan pada waktunya maka ini merupakan musibah karena menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi hingga melalaikan pada batas-batas shalat satu ke shalat berikutnya atau akhir waktunya atau juga ujung waktunya. Sebagaimana hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seperti yang dikisahkan Az-Zuhri rahimahullahu, ia berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus, saat itu ia sedang menangis. Aku pun bertanya, ‘Apa gerangan yang membuat anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang masih dikerjakan sekarang dari amalan-amalan yang pernah aku dapatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya shalat ini saja. Itupun shalat telah disia-siakan untuk ditunaikan (atau dikerjakan tepat) pada waktunya’.” (HR. Al-Bukhari no. 530).

Kembalilah kepada jalan Rabbmu yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Jika memang kita masih mencintai Allah dan Rasulnya maka lakukanlah apa-apa yang diperintahkan untuk mengerjakan tepat pada waktunya. Sesungguhnya ini (shalat tepat pada waktunya) bukankah kebaikan bagi kita juga ukht? Bersegeralah kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dan berlomba-lombalah untuk merengkuh kejayaan dan kemuliaan sebagai wanita muslimah.

Wallahu ta’ala alam bi shawwab, with love ur sister..Kholillah Ash Shalihah
(Gubuk Jerami)

Ukhti, Bagaimana Agar Amalmu Diterima-Nya?




Kategori Aqidah, Ilmu by Ummu Raihanah

Ukhti muslimah,….ketahuilah bahwa Allah hanya akan menerima amal shaleh dari hamba-Nya apabila mengikuti 2 syarat yaitu ikhlas (bersih dari kesyirikan) dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam). Akan anda dapati lebih dalam lagi penjelasannya pada kajian aqidah kali ini, yaitu mengambil 2 ayat dari surat Al-mulk ayat 1 dan 2.Didalamnya menjelaskan keutamaan surat Al-Mulk dan bagaimana amal yang benar disisi Allah.Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil manfaatnya dan diberikan kekuatan oleh Allah Azza Wajalla untuk mengamalkannya. Kita simak ayatnya beserta tafsirnya:

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Dalam Al-Qur’an itu ada sebuah surat yang terdiri atas tiga puluh ayat, yang akan memberikan syafaat kepada pembacanya sehingga dia akan diampuni. Itulah Tabaarakalladzi biyadihil-mulk”(Hadits hasan, diriwayatkan pula oleh penyusun kitab sunan yang empat)1

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir radhiyallahu’anhu :

“Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak tidur sebelum membaca Alif laam mim Tanzil (surat As-Sajadah) dan Tabaarakalladzi biyadihil-mulk (surat Al-Mulk) “(HR. Tirmidzi, hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’ 4/255)2

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dia menceritakan :

“Salah seorang sahabat pernah memukulkan kantong airnya pada sebuah kuburan,sedang dia tidak mengira bahwa itu adalah kuburan, dan tiba-tiba seseorang membaca surat Al-Mulk sampai akhir surat kemudian aku mendatangi Nabi dan aku ceritakan “Wahai Rasulullah aku telah memukulkan kantong airku pada sebuah kuburan dan aku tidak mengira bahwa itu adalah kuburan, tiba-tiba ada seseorang membaca surat Al-Mulk sampai selesai. Maka beliaupun berkata :Ia (surat Al-Mulk) adalah pencegah dan penyelamat yang akan menyelamatkannya dari adzab kubur “(HR.Tirmidzi, Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini adalah hasan gharib)3

Tabaarak secara lughah (bahasa) berarti Maha Suci.4

Dan yang dimaksud dengan “ Tangan(biyaadihi) “ dalam ayat ini adalah sifat Allah, bukan nikmat dan kodrat-Nya (sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagaian kaum muslimin). Dia adalah benar-benar tangan-Nya secara hakiki, tanpa mempertanyakan bagaimana bentuknya. Tangan-Nya yang tidak serupa dengan semua ciptaan-Nya yang mengelola kerajaan-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki.

Allah Ta’ala memuliakan diri-Nya sendiri dan memberitahukan bahwa kerajaan itu terletak diTangan-Nya. Dialah Yang Mengatur semua makhluk-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dan, Dia tidak akan ditanya tentang perbuatan-Nya, karena Dia adalah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Adil. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman(wahuwa’alaa kulli syai’in qadir) Dan Dia Maha Kuasa atas Segala sesuatu.

Kemudian Allah Ta’alaa berfirman”Yang Menjadikan mati dan hidup” maksudnya adalah sesungguhnya Dialah yang telah mewujudkan semua makhluk dari yang asalnya tidak ada , dengan tujuan menguji mereka siapakah diantara mereka yang paling bagus amalnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

Bagaimana mungkin kamu kafir kepada Allah, sedangkan kamu sebelumnya adalah mati, kemudian Dia menghidupkan kamu “(Al-Baqarah:28)

Allah mengistilahkan keadaan pertama, yaitu tidak ada dengan kematian. Dan mengistilahkan ‘kejadian’ ini dengan kehidupan. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman:

“Kemudian Allah mematikan kamu kemudian menghidupkan kamu,kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan “ (Al-Baqarah:28)

Dan, firman Allah Ta’aala:”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”

Dalam ayat ini Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya namun yang paling baik amalannya

Bila dilihat arti kata (ahsanu amala) menurut penafsiran ulama tafsir adalah;

Yang paling benar amalnya (sesuai dengan Syariat-Nya), paling ikhlas (bersih dari kesyirikan, tauhidnya benar, dan paling cepat dalam bersegera menuju kepada ketaatan-Nya .5

Berkenaan dengan ayat ini ulama tafsir seperti Imam at-Tabari, al-Qurtubi dan Ibnu Katsir memberikan perhatian penting tentang arti ayat tersebut (ahsanu amala) dengan mengatakan bahwa Syarat diterimanya amal oleh Allah swt ada dua:

1. Amal tersebut dikerjakan haruslah ikhlas kepada Allah Ta’ala (bersih dari kesyirikan)

2. Amal tersebut mutaba’ah (sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh rasulullah shalallahu alaihi wassalam)6

Dan seseorang yang ingin beramal tidak akan dapat memenuhi kedua syarat tersebut kecuali dengan ilmu.karena itulah Imam Bukhari menempatkan kedudukan ilmu dalam kitabnya {Shahih Bukhari} sebelum berkata dan beramal (Babul ilmu qabla qauli wa amal yaitu bab mengetahui atau mengilmui dahulu sebelum berkata dan beramal) “bab Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan” dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

“Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohon ampun atas dosamu” (Muhammad :19)

makna “ketahuilah” disini yaitu tahu dengan ilmu.Beliau berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan wajibnya mempunyai ilmu pengetahuan sebelum ucapan dan perbuatan(amal). Ini dalil yang tepat yang menunjukkan bahwa manusia hendaknya mengetahui dahulu, baru kemudian mengamalkannya. Ada juga dalil aqli (akal) yang menunjukkan hal serupa, yaitu bahwasanya amal dan ucapan tidak akan benar dan diterima sehingga sesuai dengan syariat. Seseorang tidak akan tahu apakah amalnya sesuai dengan syariat atau tidak kecuali dengan ilmu.7

Karena itulah apakah mungkin kita beribadah kepada Allah yang menjadi kewajiban kita tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu?!. Sebagian ulama berkata:

“dan setiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amalan-amalan yang telah dikerjakan olehnya ditolak, tidak dapat diterima” (lihat dalam kitab-kitab mereka dalam kitab tauhid Syahadatur rasul)8

Dengan demikian mengikuti syariat Nabi muhammad merupakan syarat diterimanya amal, dan perlu diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi Shalallahu alahi wassalam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam 6 perkara yaitu:

1. Sebab

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan seba yang tidak disyariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh: Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam 27 bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’raj Rasulullah (dinaikkan keatas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. Syarat ini, yaitu: ibadah harus sesuai dengan syariat, sebab adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.



2. Jenis

Artinya: ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak maka tidak diterima. Contoh; seseorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak syah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi, dan kambing.

3. Kadar (bilangan)

Kalau ada seseorang yang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima karena tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan raka’atnya. Jadi apabila ada seseorang shalat zuhur 5 raka’at, umpamanya maka shalatnya tidak sah.

4. Kaifiyat (cara)

Seandainya ada seseorang yang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syariat.

5. Waktu

Apabila ada seseorang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan dzulhijjah, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut syariat/ajaran islam.Saya (syaikh shalih Utsaimin) pernah mendengar bahwa ada orang yang menekatkan diri (takarub) kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah. Karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertakarub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji, akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan keyakinan mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana idhul adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk makan dagingnya , boleh saja.

6. Tempat

Andaikata ada orang yang beri’tikaf ditempat selain masjid, maka I’tikafnya tidak sah. Sebab tempat I’tikaf hanyalah di masjid. Begitupula, seandainya ada wanita yang hendak I’tikaf didalam mushalla dirumahnya, maka tidak sha I’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh lainnya: Ada seseorang yang melakukan thawaf diluar masjidil haram dengan lasan karena tempat melakukan thawaf telah penuh sesak, thawafnya tidak sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam baitullah sebagaimana firman-Nya:

“Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf” (Al-baqarah:125)9

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa Allah tidaklah melihat banyaknya amal yang dilakukan hamba-hamba-Nya akan tetapi Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya yang mengerjakan amal yang paling baik/bagus. Dan amal yang paling baik itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala bila tidak ikhlas (bersih dari kesyirikan dan penyakit-penyakitnya) dan tidak muta’abah (mengikuti ajaran rasul-Nya) dan mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara tadi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus istiqomah dalam menuntut ilmu-Nya . Wallahu’alam bishawab.

Catatan kaki dan Sumber rujukan:

1. Fiqh Wanita, Bab: Fadhilah Al-Qur’an,Syaikh Kamil Uwaidah,hal :649, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta [↩]
2. Kumpulan Do’a-Do’a dalam Al-Qur’an dan Hadits, Said bin Ali Al-Qahthani, hal: 115 [↩]
3. Fiqh Wanita, Bab: Fadhilah Al-Qur’an, Syaikh Kamil Uwaidah,hal:649 [↩]
4. Kamus Bahasa Arab-Indonesia, Prf.Dr.H.Mahmud Yunus,Hidakarya Agung,Jakarta [↩]
5. Kalimatul Qur’an Tafsir Wa Bayan, hal:344,Hasan Muhammad Mahbub, Muasasatu tsaqafiyah,Qahirah [↩]
6. Tafsirul maanil Qur’an billughatil Injliziyah miqbas min tafsir Tabari, Qurtubi,wa Ibnu Katsir, jilid:8 hal : 378, Royal, India [↩]
7. Penjelasan Kitab Tiga Landasan Utama, Syaikh Utsaimin, hal:34-36,Darul Haq,Jakarta [↩]
8. Pedoman Hidup Seorang Muslim,Ibrahim Al-Khuraisy, hal:60,Pustaka Azzam, Jakarta [↩]
9. Kesempurnaan islam dan Bahaya Bid’ah, Syakh Utsaimin, hal:33-35, Darul Khair, Jeddah [↩]

Jumat, 20 November 2009

>30 Kiat Mendidik Anak

Sumber: http://www.jilbab.or.id/

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala.

Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:

1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.
2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.
3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.
4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.
5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.
6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.
7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.
8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan meneladani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.
10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.
11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagiakannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebarkan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.
12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.
13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.
14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.
15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.
16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.
17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyibukkan diri dengan kegiatan itu.
18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.
19. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.
20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.
21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.
22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.
23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.
24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.
25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.
26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.
27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.
28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.
29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.
30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.

Wallahu a'lam.

ditulis oleh = Abdul Aziz.

Meniti Keluarga Sakinah dengan Akhlak Terpuji



Menjadi keluarga sakinah, adalah hal yang diidamkan setiap pasangan yang hendak membangun rumah tangga. Sesuatu yang tidak mudah, namun tak mustahil untuk diwujudkan. Apa kuncinya?

Bahtera rumah tangga membutuhkan nakhoda yang mengerti tujuan dan arah berlayar, diikuti para awak yang memiliki kesabaran yang tangguh dan teruji, yang siap diatur oleh sang nakhoda. Sebagaimana bahtera yang mengarungi samudra yang luas akan menghadapi arus dan gelombang yang menggunung, begitu pula bahtera berumah tangga. Akan banyak ujian dan cobaan di dalamnya. Banyak kerikil-kerikil tajam dan duri-duri yang menusuk peraduan.

Dahsyatnya ujian tersebut menyebabkan banyak bahtera rumah tangga yang kandas dan tidak bisa berlabuh lagi, bahkan hancur berkeping-keping. Sang istri ditelantarkan dengan tidak dididik, bahkan tidak diberikan nafkah. Sehingga muncul awak-awak bahtera yang tidak taat kepada nakhoda. Awak yang tidak mengerti tugas dan kewajibannya, berjalan sendiri dan mencari kesenangan masing-masing. Inilah pertanda kecelakaan dan kehancuran. Sang anak dibiarkan seakan-akan tidak memiliki ayah, sebagai seorang pemandu dan pembela yang akan mengarahkan dan melindungi. Seakan-akan tidak memiliki ibu, yang akan memberikan luapan kasih sayang dan perhatian yang dalam. Masing-masing berjalan pada keinginan dan kehendaknya, tidak merasa adanya keterikatan dengan yang lain. Sang nakhoda berjalan di atas dunianya, sang istri dan sang anak di atas dunia yang lain. Saling tuduh dan saling vonis serta saling mencurigai akan terus berkecamuk, berujung dengan perpisahan. Akankah gambaran keluarga tersebut mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan? Bahkan itulah pertanda malapetaka yang besar dan dahsyat.

Suratan Taqdir
Memang problem dalam berumah tangga adalah sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan terjadi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala telah menurunkan syariat-Nya untuk membimbing ke jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Jalan yang akan mengakhiri problem tersebut. Sebuah suratan yang tidak akan berubah dan tidak akan dipengaruhi oleh keadaan apapun. Mungkin kita akan menyangka, suratan taqdir tersebut tidak akan menimpa orang-orang yang taat beribadah dan orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Tentu tidak demikian keadaannya. Nabi Nuh 'alaihissalam berseberangan dengan istri dan anaknya. Nabi Luth 'alaihissalam dengan istrinya yang jelas-jelas mendukung perbuatan keji dan kotor: laki-laki “mendatangi” laki-laki. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)’.” (At-Tahrim: 10)

Ujian dalam berumah tangga tentu akan lebih besar dibanding ujian yang menimpa individu. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya ketika menjelaskan tujuan ilmu sihir dipelajari dan diajarkan:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
“Maka mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat mencerai-beraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Al-Baqarah: 102)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: ‘Aku telah berbuat demikian-demikian.’ Iblis berkata: ‘Engkau belum berbuat sesuatu.’ Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.’ Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: ‘Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: ‘Sebaik-baik pasukan adalah kamu.’ Al-A’masy berkata: ‘Aku kira, (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata: ‘Lalu iblis memeluknya.” (HR. Muslim no. 5302)

Bila iblis telah berhasil menghancurkannya, kemana sang anak mencari kasih sayang? Hidup akan terkatung-katung. Yang satu ingin mengayominya, yang lain tidak merestuinya. Alangkah malang nasibmu, engkau adalah bagian dari korban Iblis dan bala tentaranya.
Kalau demikian keras rencana busuk Iblis terhadap keluarga orang-orang yang beriman, kita semestinya berusaha mencari jalan keluar dari jeratan dan jaring yang dipasang oleh Iblis, yaitu dengan belajar ilmu agama.

Bahkan keluarga terbaik, mulia dan dibangun oleh seorang terbaik, imam para nabi dan rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Ummahatul Mukminin, juga tak lepas dari duri-duri dalam berumah tangga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah marah kepada istri beliau ‘Aisyah dan Hafshah, sampai beliau memberikan takhyir (pilihan) kepada keduanya dan kepada istri-istri beliau yang lain: apakah tetap bersama beliau ataukah memilih dunia. Kemudian seluruh istri beliau lebih memilih bersama beliau. (lihat secara detail kisahnya dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)

Cerita menantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu bersama putri beliau Fathimah radhiyallahu 'anha –dan kita mengetahui kedudukan beliau berdua di dalam agama ini– juga tidak terlepas dari kerikil-kerikil berumah tangga.
Telah diceritakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Nama yang paling disukai oleh ‘Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Suatu hari, ‘Ali marah kepada Fathimah, lalu dia keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah datang ke rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan ‘Ali di rumah. “Mana anak pamanmu itu?”, tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia, dan dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab Fathimah. Rasulullah berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.” Orang yang disuruh tersebut datang dan mengabarkan: “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur.” Rasulullah mendatanginya, yang ketika itu ‘Ali sedang berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain pakaian bagian atas) telah jatuh dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari punggungnya seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab.” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Teladan dalam Berumah Tangga
Meniti jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan berumah tangga adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam Al-Qur`an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab: 21)

Allah Subhanahu wa ta'ala telah bersumpah tentang keagungan akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ. -وَفِي رِوَايَةٍ- إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” –Dan di dalam sebuah riwayat-: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebagusan akhlak.” (HR. Al-Imam Ahmad di dalam Musnad (2/318) dan Al-Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adab no. 273 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
كَانَ رَسُولُ اللهِ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 659 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata kepada saudaranya tatkala datang berita diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Pergilah engkau ke lembah itu dan dengar apa ucapannya.” Kemudian dia kembali lalu menyampaikan:
رَأَيْتُهُ يَأْمُرُ بِمَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ
“Aku melihat dia memerintahkan kepada budi pekerti yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 3861 dan Muslim no. 2474)

Seseorang tidak akan menemukan kekecewaan bila dia menjadikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai suri teladan dalam semua tatanaan kehidupannya. Baik ketika dia seorang diri, berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dia akan berbahagia di saat banyak orang dirundung kesedihan. Dia akan tentram di saat orang-orang dirundung kegelisahan. Dia akan terbimbing di saat semua orang tersesat jalannya. Dia akan tabah dan sabar di saat orang lain gundah gulana.
وَإِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوا
“Dan jika menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (An-Nur: 54)
Hisyam bin ‘Amir berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu 'anha: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidakkah kamu membaca Al-Qur`an?” Hisyam bin Amir berkata: “Iya.” ‘Aisyah berkata:
كَانَ خُلُقُ نَبِيِّ اللهِ الْقُرْآنُ
“Akhlak Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim no. 746)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Keluarga Beliau
Sungguh amat sangat menarik bila dikaji kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama istri-istri beliau. Sebuah kehidupan indah, yang mestinya ditulis dengan tinta emas, dan telah diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala hingga hari kiamat. Sehingga setiap umat beliau yang kembali ke jalan As-Sunnah akan mengetahui hal itu. “Indahnya hidup bersama Sunnah Rasulullah”, itulah ucapan yang akan keluar dari orang yang telah mencium aroma As-Sunnah walaupun sedikit. Mari kita menelaah beberapa riwayat tentang indahnya hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama keluarga beliau, yang semuanya itu merupakan buah dari akhlak yang mulia dan agung.
Telah disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunnah seperti kitab Shahih Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i dan selain mereka. Lihat nukilan beberapa riwayat dalam kitab Ash-Shahihul Musnad Min Syama`il Muhammadiyyah. (1/384-420, karya Ummu Abdullah Al-Wadi’iyyah)

1. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kelembutan beliau bersama istri-istrinya.
Beliau tidur satu selimut, beliau mandi berduaan dan mencium istrinya sekalipun dalam keadaan berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid, sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1807) dari Hafshah radhiyallahu 'anha dan datang pula dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 1928) dan Muslim (no. 1851):
كَانَ رَسُولُ اللهِ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ
“Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa.”
Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 322 dan Muslim 444) bercerita kepada Zainab putrinya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya dalam keadaan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa, dan beliau radhiyallahu 'anha pernah mandi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sebuah bejana dalam keadaan junub.

2. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan sesuatu yang bukan merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha: “Aku melihat Rasulullah menutupi aku dengan selendangnya, dan aku melihat kepada anak-anak Habasyah yang sedang bermain di masjid hingga akulah yang bosan.” (HR. Al-Bukhari)

3. Berbincang-bincang bila memiliki kesempatan.
Sebagaimana dalam riwayat dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha: “Rasulullah shalat dalam keadaan duduk dan membaca dalam keadaan duduk. Dan bila masih tersisa dalam bacaannya sekitar 30 atau 40 ayat, beliau berdiri dan membacanya dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan sujud. Dan beliau lakukan hal itu pada rakaat kedua bila beliau menunaikan shalatnya. Jika aku bangun, beliau berbincang-bincang denganku dan bila aku tidur beliau juga tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlomba lari dengan istrinya.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ قَالَتْ: فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ، فَلَمَّا حَمِلَتِ اللَّحْمُ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي، قَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ
“Tatkala dia bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, dia berkata: ‘Aku berlomba lari dengan beliau dan aku memenangkannya.’ Tatkala aku gemuk, aku berlomba (lagi) dengan beliau dan beliau memenangkannya. Beliau berkata: “Kemenangan ini sebagai balasan atas kemenanganmu yang lalu.” (HR. Abu Dawud, 7/423 dan Ahmad, 6/39)

5. Khidmat (pelayanan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rumah tangga
Diriwayatkan dari Aswad, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: “Apa yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumahnya?” Dia berkata: “Beliau selalu membantu keluarganya, dan bila datang panggilan shalat beliau keluar menuju shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363 dan Ahmad, 6/49)

6. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istrinya, dengan menyebutkan satu sifat yang ada pada diri sang istri, sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR. Al-Bukhari no. 5228 dan Muslim no. 4469)

7. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan cara minum dari bekas mulut istrinya dan makan dari bekas tempat makan istrinya, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR. Muslim no. 300)

8. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam cemburu melebihi kecemburuan para sahabat beliau.
قَالَ سَعْدُ بْنِ عُبَادَةَ: لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفَحٍ. فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صلى الله عيه وسلم فَقَالَ: أَتَعْجَبُونَ مِنْ غِيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي
Sa’d bin ‘Ubadah berkata: “Jika aku menjumpai seseorang bersama istriku niscaya aku akan memenggalnya dengan pedang pada sisi yang tajam.” Sampailah ucapan itu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’d? Sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR. Al-Bukhari no. 6846 dan Muslim no. 2754)

Beberapa contoh yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah sebagai aplikasi dari wujud taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan semata-mata kebahagiaan dunia. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Apabila seseorang mempergauli istrinya dengan cara yang baik, janganlah semata-mata hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia semata. Bahkan hendaknya dia berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan melaksanakan apa yang diwajibkan atasnya. Masalah ini terlalaikan dari banyak orang. Dia berniat hanya melanggengkan pergaulannya semata dan dia tidak berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka hendaklah setiap orang mengetahui bahwa dia sedang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala: ‘Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik’.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/357)

Beberapa Akhlak Menuju Keluarga Sakinah
Setiap orang muslim meyakini tentang kedudukan akhlak dalam kehidupan individu, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Di sini, ada beberapa akhlak dan adab yang harus ada pada suami-istri, yakni berupa hak di antara keduanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)

1. Keduanya memiliki sifat amanah.
Jangan sekali-kali salah satu dari keduanya mengkhianati yang lain, karena mereka berdua tak ubahnya dua orang yang sedang berserikat, sehingga dibutuhkan amanah, menerima nasihat, jujur dan ikhlas di antara keduanya dalam segala kondisi.

2. Memiliki kasih sayang di antara keduanya.
Sang istri menyayangi suami dan begitu juga sebaliknya, sang suami menyayangi istrinya. Ini merupakan perwujudan firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)

3. Menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jangan sekali-kali terkotori dengan keraguan terhadap kejujuran, amanah, dan keikhlasannya.

4. Lemah lembut, wajah yang selalu ceria, ucapan yang baik dan penuh penghargaan. Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Bergaullah dengan mereka secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Inginkan dan lakukan kebaikan untuk kaum wanita.” (Lihat Minhajul Muslim, 1/102).

Wallahu a’lam.

sumber

Memelihara amanah kerja

27 Oktober 2009 oleh dev

oleh Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah

arlojiMemelihara waktu kerja adalah amanat yang harus dipelihara dan ditunaikan, Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”, (QS. an-Nisa’: 58)

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab : 72)

Sesungguhnya memelihara waktu kerja dari awal sampai akhir adalah amanat di pundakmu yang nantinya kamu pasti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala dan akan diperhitungkan dengan perhitungan yang sangat teliti. Oleh karena itu hendaknya kamu senantiasa berusaha untuk memelihara waktu kerja tersebut, niscaya Allah Ta’ala-pun akan memeliharamu dan agar gaji kamu menjadi halal serta agar kamu bersifat dengan sifat-sifat orang-orang yang beriman sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, artinya “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,” (QS. al-Mukminun : 8

Mereka yang apabila dipercaya tidak akan berkhianat, karena berkhianat adalah sifat orang-orang munafiq – semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kemunafikan dan orang-orang munafiq-.

Termasuk mengkhianati amanat adalah bermain-main dan meremehkan amanat yang telah diamanatkan kepada seorang karyawan, seperti mencuri waktu kerja untuk hal-hal yang tidak dibenarkan dalam perjanjian kerja, di awal waktu kerja satu jam dan di akhir waktu kerja satu jam, kurang atau lebih dari satu jam, lalu dia mengambil upah dari waktu kerja tersebut tanpa hak dan tanpa alasan yang dibenarkan oleh Agama, bahkan dia telah mengambil gaji tersebut sebagai upah bermalas-malasan, meremehkan dan sibuk dengan urusan pribadi yang mungkin dapat dikerjakannya di luar waktu kerja.

Kalaulah saja setiap karyawan memperhatikan waktu kehadiran mereka untuk bekerja seperti perhatian mereka terhadap waktu pulang mereka dari kantor. akan tetapi kita mendapatkan sebagian mereka bermalas-malasan ketika datang, mereka datang pada waktu yang berbeda-beda, namun ketika pulang, mereka berdesak-desakan untuk membubuhi tanda tangan kepulangan, tidaklah beberapa menit berlalu dari waktu pulang kecuali kantor-kantor telah kosong dari karyawan. Kalau saja gaji seseorang di antara mereka berkurang, atau dia tidak mendapatkan tambahan atau tunjangan, maka dia akan mencak-mencak – maka kami berlindung kepada Allah dari sifat-sifat manusia yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. al-Muthaffifin : 1-3)

Maka menjadi kewajiban setiap karyawan untuk :

* Melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya dengan teliti dan penuh amanah.
* Memelihara waktu kerja, merapikan tugas-tugasnya.
* Menemui para klien dan menyelesaikan kebutuhan mereka, mendengarkan keluhan mereka serta tidak pilih kasih kepada siapa-pun baik kerabat maupun teman, dia tidak boleh mengutamakan seseorang di antara mereka tanpa hak
* Tidak menyia-nyiakan waktu kerja, yakni menggunakan waktu tersebut bukan untuk melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya.

Lebih bahaya dari yang tersebut di atas adalah karyawan yang enggan menunaikan hak para klien/ tamu kecuali jika pengunjung itu membayar uang sogokan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang yang membayar sogokan dan yang memintanya di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, dengan perbuatannya itu dia telah melakukan dua kezhaliman : mengkhianati tugas dan memakan harta yang haram.

Dan ketahuilah bahwa setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka Neraka lebih pantas baginya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugrahi kita semua rizki yang halal dan memberikan taufiqNya untuk senantiasa bersyukur kepadaNya.

sumber: alsofwah.or.id
Menuju Sukses Dengan Target








ImagePengin sukses dunia akhirat? Mudah milikilah visi dan misi. But, nggak cuma berhenti sampai situ saja ya! Visi misimu masih merupakan gambaran umum dari diri idealmu. Ia memang menggambarkan dirimu di masa depan, beberapa tahun lagi. Tapi ia tidak memperinci jalanmu untuk mencapainya.
Agar punya konsep diri yang positif kamu perlu membawa citra dirimu menuju kepada diri idealmu. Supaya hal itu tercapai, kamu perlu merinci visi misimu, cita-citamu, dan tujuanmu menjadi target-target, baik jangka panjang, menengah, dan pendek. Jika visimu kenyang, misimu memakan kue tart, maka targetmu adalah memotong-motong kue tart itu.
Lho ngapain kudu memperinci visi misi menjadi target-target jangka panjang, menengah, dan pendek? Kan visi, misi, cita-cita, dan tujuan udah memberi arahan bagi langkah-langkah yang akan kita capai dalam membawa citra diri kita kepada diri ideal kita?
Iya sih, tapi beda. Bedanya banyak. Sudah saya kemukakan di atas tadi bahwa visi misi masih merupakan gambaran umum. Target memperinci visi, misi, dan cita-cita.
Target merupakan langkah-langkah aksi alias kegiatan dalam mencapai cita-cita dan tujuanmu. Tanpa target, kamu belum tentu bisa beraksi membawa citra dirimu menuju diri idealmu.
Kalo sudah paham tentang target, kamu bisa lanjut ke langkah berikutnya. Kalo pengin tahu lebih banyak tentang target, kamu kudu baca kotak intermezzo tentang target ini.

Manfaat Target
Biar mantab, kamu perlu tahu manfaat adanya target-target saat membawa citra dirimu menuju diri idealmu.
Ini dia manfaat adanya target-target.

Memotivasi Kamu
Target yang berwujud langkah-langkah atau kegiatan akan membuat kamu bersemangat ketika membacanya. Target-target akan berjalan dengan dua arah: kamu bekerja untuk target itu atau target itu bekerja untuk kamu. Target akan memberikan kejelasan apa yang perlu kamu capai. Jika kamu bisa mencapainya, maka kamu akan mendapatkan perasaan puas dan lega.

Memunculkan Keinginan
Kalo kita kembali melihat keluhan teman-teman kita yang saya cuplik di atas, kita akan melihat betapa banyak orang yang tidak merasa bahagia dengan apa yang ada pada dirinya, apa yang ada pada kehidupannya.
Konon, 98 dari 100 orang yang enggak puas dengan hidup mereka ternyata karena mereka nggak mempunyai gambaran jelas tentang kehidupan yang mereka inginkan. Mereka nggak netapin diri ideal mereka itu gimana. Trus, itu berarti mereka nggak punya cita-cita, tujuan, visi, dan misi. Trus, tentu saja mereka nggak punya target-target dalam hidup mereka. Akibatnya, mereka terus saja hidup dalam keadaan yang sama tanpa ada usaha untuk mengubahnya.
Target yang berupa langkah-langkah atau aksi akan membuat kamu menginginkan sesuatu yang perlu kamu capai. Tentu keinginan itu masih terpaut dengan gambaran diri idealmu: cita-cita, tujuan, visi, dan misimu.

Memberi Gambaran Solusi
Suatu solusi bergantung banget sama cara pandang kita terhadap target kita. Kalo kamu punya target yang kamu anggap enggak penting, tentu aksi yang kamu lakukan untuk mencapai diri idealmu juga asal-asalan saja. Sebaliknya, jika target-targetmu kamu anggap penting, pasti deh kamu akan berusaha menyelesaikannya dengan serius.
Inilah pentingnya mengarahkan visi misimu agar tetap berorientasi ke cita-cita dan tujuan tertinggi: meraih surga dan bertemu sama Allah I. Jika diri idealmu berorientasi ke akhirat, maka target-targetmu semestinya kudu berorientasi ke akhirat juga. Akhirat sudah tentu merupakan sesuatu yang amat sangat penting buangeet buat kita. Jika demikian, insya Allah kamu pun akan bersemangat plus serius dalam melakukan aksi menuju targetmu. Dan itu semua akan memudahkanmu dalam melihat gambaran solusi.

Memaksimalkan Potensi
Orang punya potensi itu biasa. Sebab, setiap orang toh pasti punya potensi. Yang luar biasa adalah orang yang punya potensi plus punya target yang sesuai dengan potensinya. Dengan target ia akan fokus; memusatkan potensinya untuk meraih target-targetnya dan berusaha terus menuju diri idealnya.
Dengan kata lain, target membantu kamu untuk fokus. Tambahan lagi, jika kamu terus beraktivitas sesuai dengan bidang kemampuanmu alias potensimu, maka yang kayak gitu akan membantumu untuk mengembangkan kemampuanmu lebih jauh. Nah, hasilnya, selain kamu bisa mencapai targetmu itu, pada saat mencapainya pun potensimu akan berkembang. Hebat, enggak? Sekali menyelam, dua tiga pulau tenggelam. Eh, keliru: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Menghasilkan Rencana
Muslim muda yang sukses akan selalu bikin perencanaan. Ia nggak perlu nunggu ortu, ustadz, murabbi, saya, atau orang lain menyuruh apa yang kudu mereka kerjakan. Pengendali diri mereka adalah mereka sendiri. Allah telah mengaruniai manusia keinginan dan kemampuan memilih. Mereka nggak membiarkan orang lain mendikte mereka. Orang yang nggak bikin perencanaan tidak akan pernah maju.
Target membantu kita membuat rencana. Target memacu kita untuk menggunakan langkah-langkah yang tepat untuk mencapai diri ideal kita. So, jika kamu hendak membawa citra dirimu menuju diri idealmu, bikinlah target.

Membantu Evaluasi
Sebaik menghasilkan rencana, target membantu kita untuk mengevaluasi pencapaian kita. Salah satu sebab orang yang gagal dalam mencapai keinginan mereka adalah mereka jarang mengevaluasi kemajuan.
Target sangat penting untuk dievaluasi. Jika diri idealmu sekedar tujuan, cita-cita, visi, dan misi, maka kamu akan sulit mengevaluasinya. Tapi, target merupakan langkah-langkah alias aksi atau kegiatan. Jika target kamu sudah spesifik dan realistis, maka kamu dapat mengukur seberapa jauh kemajuan yang kamu capai saat ini dengan targetmu.