Jumat, 30 Oktober 2009

Seorang Ibu...Sebuah Dunia Berjuta Cinta

Sehelai selendang Kasih

Malam makin kelam, menyelimuti makhluk2 Allah yang baru saja berjuang seharian menempuh hidup.Agin cukup kencang bertiup dan rumah gedeg itu berderit-derit sesaat. Seorang ibu, tampak mengaduk-aduk tempayan berisi adonan diterangi cahaya redup ublik yang ada diatas meja kayu lusuh. Cekatan tangannya bekerja sambil menyenandungkan shalawat lirih...Sesendok demi sesendok adonan diletakannya diatas daun pisang dan dibungkus rapi. Tiba-tiba senandungnya terhenti bulir-bulir mengalir dan disekanya dengan ujung lengan bajunya. Perlahan sang ibu bangkit dan berjalan berjingkat ke kamar anak-anaknya. Disingkapnya kain panjang yang menjadi tirai kamar, disandarkannya kepala di gawangan kamar itu dan dipandangi wajah-wajah manis yang tidur berhimpitan di amben bambu. Bulir-bulir bening makin deras mengalir. Betapa ia ingin mencium buah hatinya satu persatu, namun diurungkannya karena itu akan membangunkan mereka dari lelapnya. Lalu dengan menahan isaknya, sang ibu kembali ke dapur, melipat bungkus demi bungkus kue pisang. Senandungnyaperlahan kembali terdengar, senandung istigfar dan puji-pujian...Sesekali wajahnya tengadah dan kedua tangannya menangkup doa,"Robbi, berkahilah hidup kami...., berikanlah keutamaan pada anak-anak kami..."
Sementara itu, ketika fajar merekah, seorang ibu bergegas berjalan menyusuri gang sempit dan becek, bekas hujan semalam. Setengah berlari dia berusaha secepat mungkin sampai di jalan raya dan melompat ke metromini yang berjalan lambat sebelum akhirnya tancap gas membelah kota. Tampak ceria sang ibu merangkai komponen2 elektronik di panel IC. Sebentar lagi lebaran, sebentar lagi ad rapel gaji- THR - yang berarti gadis kecilnya dapat memenuhi impian baju barunya. Tersenyum sang ibu membayangkan putri tercinta mengenakan gaun dan kerudung merah jambu atau kuning muda juga bagus. Ah..., biar dia sendiri sajalah yang memilihnya. Senyumnya kembali merekah, saat membayangkan tangan mungil itu menariknya dari satu pajangan ke pajangan gaun yang lain. Hanya setahun sekali, ya...hanya setahun sekali kegembiraan ini bisa mereka miliki. Lalu berkali-kali hamdalah dilantunkannya.
Demikian seorang ibu menapaki harinya. Dan, demikianlah sejarah mencatatnya. Dari Siti Hawa hingga Khadijah r.a., semuanya terekam di sanubari bumi. Seorang ibu senantiasa hadir tanpa di diminta, selalu menyapa dengan kehangatannya. Ibulah yang menghidupkan hari-hari. Senyumnya, air matanya, belaianya, dan doa-doa'nya tak pernah putus.
Seorang ibu yang pulang berjualan dengan membawa beberapa liter beras dan ikan asin, melangkah gembira. Keesokannya, sedikitpun dia tidak keberatan untuk berjalan berkilo-kilo meter, berjualan, agar memperoleh beberapa liter beras lagi, sebab dia sadar ada kehidupan yang tengah disemainya. anak-anaknya.
Begitu pula ibu-ibu yang mengurus rumahnya dari halaman depan hingga kamar mandi, atau ibu-ibu yang berdesak-desakan di KRL berangkat dan pulang kerja, juga ibu-ibu yang bermandikan peluh di pasar pengap. Mereka semua menyadari, ada sebuah generasi yang tengah tumbuh dan membutuhkan curahan seluruh potensi para ibu.
Hingga manakala ada masa, yang sempat merekam kehadiran seorang ibu yang melebihi daripada sebagai ibu dari anak-anaknya, maka kiranya demikianlah Allah menjadikan kemulian itu senantiasa menghiasi mereka. Ketika itulah seorang ibu membentangkan selendang kasihnya selebar dunia, menyelimuti persada dengan berjuta kecintaan sejati pada generasi yang sedang bersemi...Subhanallah. ( Amatullah Shafiyyah )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar