
Ibu Tiri, Sekejam Bayangannya?
Bagaimana sih rasanya punya mama baru? Menakutkan? Biasa-biasa aja? Menyenangkan? Ataukah yang lain? Yang pasti, Islam punya kiat khusus tentang ini.
Memiliki seorang ibu adalah anugerah yang tiada tara, semua orang tentu tidak menyangkal hal ini. Kemurnian cinta dan ketulusan kasih saying seorang memang tak akan pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata seindah apapun. Dan hampir semua orang juga percaya, bahwa ketulusan kasih ibu itu hanya ada pada ibu kandung, ibu yang telah melahirkan kita. Lalu bagaimana jadinya kalo posisi ibu kandung harus tergeser oleh ibu tiri.
Bayangan seorang ibu tiri memang jarang sekali menyenangkan hati. Bahkan sudah menjadi imej umum bagi setiap anak, kalo ibu tiri adalah sosok yang menyeramkan. Cintanya selalu dianggap semu, kasih sayangnya diragukan, perhatiannya pun dinilai tidak tulus pada anak tirinya."Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja", begitu kata syair lagu yang popular lewat film Ari Hanggara. Maka tak ayal lagi, bayangan seorang ibu tiri bak macan yang lebih galak dari macan, buaya yang lebih buas dari buaya, (lalu kayak apa dong?)
Tak beralasan
Sebut saja Gita, sejak ditinggal mati ibu kandungnya, gadis SMU ini cuma tinggal berdua dengan sang Ayah, meski terbesit di benaknya ingin mendapatkan kembali kasih sayang seorang Ibu, namun mendengar dan membayangkan cerita ibu tiri, Gita jadi enggan punya ibu lagi. Makanya ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, Gita jadi shock berat. Sebagai gadis yang menurut, Gita hanya diam saat ayahnya meminta persetujuan. Padahal ketika di kamar, Gita menjerit histeris dibawah tempat tidurnya (eehh…di bawah bantal). Rasa dongkol, cemas, kecewa bercampur aduk bak nasi dicampur air comberan (huekk). Gambaran ibu tiri yang sekejam mak lampir menghantui dirinya.
Sementara Lisa, yang juga siswi SMU itu, mengalami kejadian yang tidak berbeda dengan Gita. Hanya buat Lisa, Ibu tiri tidak hanya sebuah bayangan tapi sudah menjadi kenyataan di depan mata. Kira-kira dua bulan lalu setelah Ibu kandung Lisa meninggal, ayah Lisa memboyong seorang wanita yang harus dipanggilnya mama. Sayang selama ini, belum keluar dari mulut Lisa panggilan mama kepada ibu barunya itu. Bahkan Lisa memilih menjauh, menutup diri dan tak mau peduli dengan mama barunya itu. Yang ada dalam benak Lisa, daripada nanti dikejami ibu tiri, lebih baik ngambil sikap frontal duluan.
Terlepas fiktif tidak cerita diatas, tapi sikap kedua ABG itu mewakili sebagian besar kita terhadap ibu tiri.
Kehadiran ibu tiri di tengah-tengah keluarga seringkali menjadi momok. Kenapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah karena kita sudah terlanjur membenarkan issue soal keburukan ibu tiri. Seperti yang kamu tangkap dari film, buku, atau dongeng. Figur ibu tiri selalu identik dengan sikap minus, penyiksa anak tiri, perebut ayah kandung, dan mungkin juga perebut harta kekayaan. Maka bisa dipahami kenapa Gita begitu histeris ketika tahu ayahnya bermaksud menikahi wanita yang kelak akan menjadi ibu tirinya, begitu juga dengan Lisa yang cuek bebek kepada mama barunya. Mereka terlalu yakin kalo kehadiran ibu tiri merupakan awal bencana dan penyebab timbulnya masalah-masalah baru dalam keluarga kelak. Padahal baik Gita maupun Lisa sama-sama tidak punya alas an yang pasti kenapa mereka meyakini hal itu. Yang jelas, imej umum plus beberapa kasus yang ada memang menggambarkan seperti itu.
Takut
Rasa takutlah yang menjadi sebab mendasar kenapa Gita dan Lisa bersikap tidak ramah kepada ibu tirinya. Dalam kaitannya dengan hal ini, Muhammad Muhammad Ismail, dalam bukunya Bunga Rampai Pemikiran-pemikiran Islam, menuliskan bahwa rasa takut itu pasti ada dalam diri manusia. Rasa takut adalah salah satu bentuk manifestasi dari naluri yang ada diri manusia yaitu naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa'). Rasa takut sebenarnya hanya akan muncul bila ada yang mempengaruhinya, meskipun adanya pada diri manusia adalah fitrah. Yang mempengaruhi bisa jadi berupa benda atau pemikiran yang intinya memang suatu yang biasanya menakutkan, atau bisa jadi hanya sekedar perasaan yang muncul dari dalam terhadap sesuatu yang menakutkan. Maka, bila tidak ada pemikiran atau perasaan tertentu, tentunya nggak akan ada rasa takut.
Dengan begitu, kamu bisa menyimpulkan bahwa ketakutan yang dialami oleh Gita, Lisa atau teman-teman yang lain, hanyalah disebabkan oleh perasaan dan pemikiran buruk mereka tentang ibu tiri. Di antara kita memang seringkali menilai dan menyimpulkan sesuatu hanya dengan perasaan semata. Kita dengan mudah menyimpulkan bahwa semua ibu tiri itu pasti jahat, hanya karena kita merasa miris terhadap nasib anak tiri dalam sebuah cerita. Kisah malang si Bawang Putih yang selalu disakiti ibu tiri, Cinderalla yang dianggap babu di rumahnya oleh ibu tirinya, atau kisah Putri Salju, bahkan kisah Air Hanggara yang disadisi ibu tiri, begitu menyayat hati dan membuat kita bergidik kalau kita ingat betapa kejamnya ulah ibu tiri. Sampai-sampai waktu kebetulan ada teman yang dimarahi ibu tiri, sepertinya hal itu lebih heboh ketimbang teman lain atau diri sendiri yang dimarahi oleh ibu kandung. Maka kitapun jadi semakin yakin, kalau perasaan kita benar, padahal belum tentu seperti itu kenyataanya.
Kalau kamu termasuk orang yang punya negative thinking tentang ibu tiri, wah rasanya kamu harus segera mengoreksi persepsimu itu. Hilangkan dulu tuh pikiran-pikiran dan perasaan aneh yang sama sekali tak beralasan. Lihat realitanya dulu dong, Non. Sekali-kali kamu perlu juga melirik pada teman-teman yang lain yang nyatanya bisa hidup normal dan bahagia, meski harus tinggal bersama dengan ibu tiri.
Seorang kenalan, anggaplah namanya Sita, mengaku sangat menyesal karena telah memusuhi dan kasih saying ibu tirinya. Belakangan Sita baru sadar, bahwa ibu tiri yang sebelumnya dicuekin ternyata tulus hatinya. Buktinya, waktu Sita sakit keras, ibu tiri yang paling dibencinya itu malah merawatnya tanpa kenal lelah, layaknya ibu kandung. Peristiwa itu juga yang membuka mata Sita bahwa cap buruk terhadap ibu tiri itu tidaklah benar. Apalagi kalau kamu tahu pengalaman Dewi, dan keempat saudaranya. Sejak kecil mereka mendapat asuhan dari seorang ibu, kecuali si bungsu. Dewi beserta kakaknya Dewa dan adiknya Dani dan Dono cuma sekedar anak tiri di mata ibunya itu. Tapi toh Dewi dan saudara-saudaranya bisa jadi orang sukses berkat didikan ibu tiri mereka. Jika semua ibu tiri itu kejam, tentu nggak akan pernah ada kejadian seperti yang dialami Sita dan Dewi. Makanya kamu kudu yakin bahwa ibu tiri tidak selamanya minus.
Nggak Rela
Jujur saja, diantara mereka yang merasa takut dan menolak kehadiran ibu tiri itu umumnya memang anak perempuan. Anak putera biasanya kurang peduli soal ini. Asalkan kehadiran ibu tiri tidak mengganggu aktivitasnya, itu bukan masalah buat anak cowok. Berbeda dengan anak cewek, sebagai orang yang paling dekat dengan ibu, tempat curahan kasih saying, dan tempat mengadu, ibu akan begitu dekat dihatinya sampai kapanpun. Maka tak heran kalo umumnya anak perempuan nggak rela kalo posisi ibunya harus digantikan oleh orang lain. Selain itu secara psikologis rasa cemburu lebih mudah hinggap duluan pada anak perempuan disbanding anak putera. Rasa cemburu inilah yang membuat anak perempuan mana pun tidak akan suka melihat ayahnya dekat dengan orang asing, termasuk ibu tiri sekalipun.
Kita juga merasa nggak rela kalo sampai terjadi perubahan-perubahan dalam rumah yang diprakarsai oleh seorang ibu tiri. Terbayang deh, akan adanya banyak peraturan baru, tata ruangan baru, dan segala yang baru-baru, yang belum tentu sama seleranya dengan kita. Jangan-jangan nantinya kita malah jadi terkekang di rumah sendiri. So, daripada harus menerima kehadiran ibu tiri, kita cenderung lebih memilih untuk menolaknya. Mesikipun dengan resiko harus berlelah ria dengan urusan rumah. Biarlah sibuk ngurusin adik dan ayah, ketimbang harus tinggal dengan ibu tiri yang serem, pokoknya nggak rela .., nggak rela.
Padahal satu hal yang perlu kamu ketahui, meski kamu berusaha menangani segala urusan rumah, mulai dari menyiapkan makan, mencuci dan menyentrika pakaian orang-orang rumah, serta segala aktivitas yang bisa menggantikan fungsi ibu, itu belum tentu cukup buat ayahmu. Apa yang kamu lakukan belum tentu sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang ibu. Kehadiranmu atau anggota keluarga yang lain, belum tentu mampu mengatasi segala kesepiannya setelah ditinggal sekian lama oleh isterinya tersayang. Maka, betapa naifnya kalau kamu tetap bersikukuh mempertebal rasa cemburu, tanpa memikirkan perasaan ayahmu sendiri. Memang benar bahwa rasa cemburu itu pertanda sayangmu, tapi apa bisa dikatakan sayang kalau kamu cuek bebek saja dengan kebutuhan ayahmu yang satu ini?
Kuncinya?
Dalam pandangan agama Islam, tidak dianggap suatu dosa kalau seorang lelaki yang telah ditinggal mati isterinya menikah lagi. Bahkan sah-sah saja kalau pun mau beristeri lebih dari satu. Kamu perlu catat itu. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak kehadiran seorang ibu tiri dalam rumah tangga ayahmu. Dan ketika isteri ayah itu telah menjadi anggota keluarga, maka statusnya sama seperti anggota keluarga yang lain. Memang sih, kedudukan ibu tiri tidak akan sama dengan ibu kandung. Seperti dalam birrul waalidain atau berbakti kepada orang tua, konteksnya memang berarti berbakti ayah dan ibu kandung. Tapi itu bukan berarti kamu bisa seenaknya memperlakukan ibu tiri dengan sikap permusuhan dan kebencian. Karena sebagai isteri ayah, ibu tiri adalah anggota keluarga yang berhak mendapat kasih saying seperti anggota keluarga lain. Sebagai seorang anak, tentunya kamu pun wajib berbuat ma'ruf pada isteri ayahmu itu.
Lalu tentang perbedaan-perbedaan antara kamu dan ibu tiri. Jangankan dengan ibu tiri, dengan ibu kandung sendiripun bukan mustahil perbedaan itu akan ada. Tapi toh semua itu bisa diatasi asalkan ada keterbukaan. Komunikasi jelas menjadi kuncinya kalau kamu ingin semua berjalan dengan lancar. Bagaimana ibu tiri bisa tahu apa yang menjadi keinginan dan harapanmu, kalau setiap bertemu saja kamu berusah menghindar. Untuk kumpul bareng saja, kamu sudah ogah duluan, padahal alangkah baiknya jika sebagai anggota keluarga lama, kamu yang lebih dahulu menciptakan "politik pintu terbuka". Karena sebagai orang baru dalam keluarga, belum tentu ibu tiri tidak akan merasa canggung dan kikuk menghadapi anak-anak suaminya. And, yang paling penting dari semua itu, tumbuhkanlah rasa cintamu kepada ibu tiri. Bukankah kita belum dikatakan beriman, sebelum kita mencintai saudara kita seperti mencintai diri sendiri? Apalagi dia adalah isteri dari ayahmu sendiri. (Ina)
Disadur dari Majalah Permata 24/V Desember 1997.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar