Selasa, 03 November 2009

Osteoporosis Ruhiyah, Satu Masalah Berbagai Penyebab


Osteoporosis Ruhiyah, Satu Masalah Berbagai Penyebab

"Telah terjadi penurunan ruhiyah secara nasional."
Ini bukan ungkapan khayalan. Tetapi ungkapan salah satu tokoh dakwah ini pada saat dakwah ini baru menginjakkan kakinya di fase hizb yang awal. Mengejutkan.
Padahal dakwah ini baru saja dikenal masyarakat luas. Dan juga belum semua masyarakat mengenalnya. Dakwah ini pun baru menginjak tangga berikut dari perjalanan dakwah yang panjang itu.Belum lagi kokoh kaki menginjak tangga itu. Padahal ini bukan tangga terakhir. Masih banyak tangga berikutnya.
Melihat perjalanan dakwah hari ini, kita bisa menilai. Kalau sebelum era hizb yang pertama, nilai ruhiyah bisa sampai 9. Kemudian setelah perhelatan akbar hizb yang pertama, ungkapan di atas sudah muncul. Nah, setelah fase hizb yang kedua sampai hari ini, berapa nilai ruhiyah ini. Dari semakin banyaknya masalah, ruhiyah harus segera mendapatkan perhatian yang serius. Untuk itu kita perlu menganalisa di awal apa penyebab dari osteoporosis ruhiyah pada dakwah ini. Dan berikut ini beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi koreksi bersama atas penyebab keroposnya ruhiyah, sekaligus sebagai kehati-hatian.

1. Maksiat yang sudah mulai dikonsumsi
Salah satu penyebab osteoporosis tulang adalah mengkonsumsi narkoba. Ini menjadi pelajaran untuk osteoporosis ruhiyah. Jika maksiat sudah mulai dikonsumsi oleh para kadernya, maka penyakit itu pasti terjadi. Apalagi –naudzubillah- jika maksiat itu dikonsumsi dengan resmi oleh jamaah dakwah ini. Apa mungkin? Mengapa tidak?
Kalau negeri ini ribut-ribut masalah korupsi, ada jenis korupsi yang lebih sulit dibongkar apalagi dihukum. Yaitu state corruption korupsi yang dilakukan negara dengan peraturannya. Siapa yang akan membuktikan jika negara sendiri yang korupsi dan siapa yang akan menghukum.
Di sini terasa sangat penting keberadaan orang-orang shalih di jamaah ini. Orang-orang yang tidak berubah oleh mode zaman, tidak ikut ke mana angin negeri ini bertiup, tidak termakan kekhawatiran yang justru menjauhkan kekraban dengan Allah. Orang-orang yang "la yakhafuna fillahi laumata la im (tidak takut caci makian siapa pun di jalan Allah ini)."
Orang-orang shalih dengan cinta mereka pada dakwah ini akan terus memantau dengan pandangan cinta, menegur dengan kasih sayang, meluruskan dengan tanpa ada perubahan seujung rambut pun pada rasa ukhuwahnya.
Itu semua agar tidak muncul istilah sebagian pejuang dakwah ini: dulu begitu saja tidak boleh sekarang kok begini boleh. Atau komentar terhadap para pembuat kebijakan: dulu dialah yang melarang untuk melakukan ini, tapi sekarang dialah yang membolehkannya.
Sebenarnya perubahan pada fatwa atau keputusan tidak selamanya salah. Asal benar-benar berdasarkan kajian mendalam pada hukum Allah dan kenyataan di lapangan yang sedang terjadi. Dan yang harus dicatat dengan garis tebal adalah tidak ada nafsu terselip di sana.
Kemaksiatan yang semakin sering dan semakin kentara pada sebagian kader dakwah juga merupakan penyebab runtuhnya ruhiyah dakwah ini. Dulu ada hal-hal tabu yang hari ini menjadi kenangan indah bahwa kita pernah bisa menghindarinya. Tetapi kini menjadi hal biasa terjadi di antara pionir dakwah. Anehnya lagi, mereka yang tetap tegar di atas manhaj dakwah ini disebut-sebut tidak paham fiqih dakwah.
Mari kita renungi dialog antara Utsman bin Affan yang telah menjabat menjadi khalifah dengan seseorang yang diundang untuk makan bersama. Selesai makan, Utsman meminta komentar tentang menu suguhan yang luar biasa istimewa itu. Orang yang bersama Utsman menjawab: Sungguh hal ini tidak akan pernah dimakan oleh Khalifah Umar. Utsman menjawab: Kamu tahu, saya adalah orang yang paling kaya dan makanan ini tidak mengambil sedikit pun dari harta muslimin. Sungguh Umar telah melelahkan para khalifah setelahnya (untuk mengikutinya).
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari dialog tersebut. Di antaranya, Utsman berani menjelaskan sumber uangnya. Bukan justru mengedepankan kata yang benar untuk jadi tameng yang salah: tsiqoh kepada sesama ikhwah apalagi qiyadah. Kalau bersih mengapa harus risih.
Pelajaran berikutnya adalah Utsman tidak mengeluarkan kata-kata apapun tentang kesederhanaan Umar yang memang tidak bisa diikutinya. Justru kata-kata yang menunjukkan bahwa dirinyalah yang tidak sanggup mengikuti langkah hebat Umar. Bukan justru menvonis Umar telah salah langkah. Atau mengkajinya dari sisi keadaan zaman yang sudah beda. Karena kesederhanaan adalah pilihan Rasulullah yang bisa saja memilih menjadi nabi sekaligus raja.
Sebuah kesalahan yang sama, bisa mempunyai efek yang berbeda. Yaitu efek dosanya di sisi Allah. Dan semakin besar sebuah dosa, akan semakin besar pula dampak kerusakannya pada masyarakat. Yang bisa menyebabkan dosa yang sama tetapi efeknya berbeda adalah siapa pelakunya. Jika pelakunya masyarakat biasa, shalat saja tidak, maka orang akan berkata wajar. Semakin naik tingkat keshalihannya, semakin dipandang buruk oleh masyarakat.
Nah, jika yang melakukan adalah para kader dakwah yang selama ini dikenal oleh masyarakat sebagai 'masyarakat malaikat', pasti sangat buruk efeknya di masyarakat. Jika dosa itu dikerjakan oleh para muslimah berjilbab rapi pasti berbeda jika dosa itu dikerjakan oleh wanita dengan rok mini. Jika dikerjakan oleh mereka yang biasa ke masjid dan lancar membaca al-Qur'an, pasti berbeda jika yang mengerjakan adalah orang yang bahkan tidak tahu apa nama musholla dekat rumahnya.
Dosa pada level individu apalagi jamaah, jelas menjadi penyebab turunnya iman. Satu dosa yang mulai digemari, akan menggerogoti ruhiyah sampai keropos atau bahkan sampai patah.

2. Dunia yang mulai merayapi
Apakah kamu sudah pernah melakukan perjalanan jauh dengannya? Apakah kamu pernah menitipkan uang padanya?
Dua pertanyaan Umar di atas untuk melihat apakah pengakuan bahwa orang itu mengenal baik temannya benar adanya. Kalau Umar melihat bahwa masalah harta adalah merupakan salah satu tolok ukur kebaikan dari kebersamaan ini, maka kita pun harus bertanya pada diri kita.
Dan kita belum teruji pada masalah harta dunia. Artinya belum lolos dan belum lulus sebagai masyarakat baik, menurut Umar radhiallahu anhu.
Umar pula yang menangis saat menerima pundi-pundi besar berisi emas perak dan perhiasan lainnya. Bayangkan, kehidupan sulit para shahabat secara ekonomi akan segera berubah di masa Khalifah Umar. Umar seharusnya bahagia. Umar seharusnya tersenyum bangga, apalagi harta tersebut adalah bukti kemenangan yang Allah anugerahkan.
Tetapi Umar justru menangis. Orang yang ada di sampingnya pun heran dan bertanya: mengapa engkau menangis wahai khalifah. Bukannya seharusnya ini disambut dengan senyum karena ini kemanangan. Umar menjawab: Inilah yang akan menyebabkan pertikaian di antara kita.
Kajian yang sangat dalam. Dari Khalifah Umar. Tentang harta yang memicu pertikaian hasil runtuhnya ruhiyah.
Mari kita tengok diri kita hari ini. Muncul sebuah rumor bahwa kalau semangat mengaji para kader dakwah layak diacungi dua jempol. Tetapi kalau sudah bicara masalah bisnis bersama, layak dijungkirkan dua jempol kita, pertanda sangat buruk prestasinya. Pertikaian sering menjadi ujung bisnis yang diawal dibangun dengan kebersamaan, tsiqah dan ukhuwah. Amanah pada masalah harta sama sekali belum teruji.
Ibnu Qayyim pernah memberikan kesimpulan kajiannya untuk kita: jika ada rasa saling hasad di antara kita, pasti ada dunia yang menyelip di antara kita. Sangat menarik kajian Ibnu Qayyim ini. Di mana selanjutnya beliau berikan analoginya: Makanya, tidak pernah ada yang saling hasad saat kita sama-sama memandang keindahan langit, karena langit itu sangat luas untuk semua pandangan kita. Dan dunia ini sangat sempit, maka saling hasad akan terjadi pada hal yang sempit.
Kalau ada pernyataan: Kita tidak bisa menang hanya mengandalkan ruhiyah. Ini justru merupakan pernyataan yang berasal dari ruhiyah yang sedang keropos. Karena tidak mungkin kita hanya duduk terpaku dengan hanya mengandalkan tilawah, qiyamullahi, shiyam. Pasti ada usaha maksimal di lapangan dakwah. Masalahnya adalah pernyataan tersebut adalah entry poin untuk tema harta: asal punya sekian rupiah kita pasti menang. Jelas, rupiah telah membuah ruhiyah kedodoran. Sehingga tolok ukur pun telah berubah. Padahal kita semua tahu dakwah ini tidak punya modal uang yang cukup, tetapi Allah berikan beberapa kemenangan.
Dunia yang sering berurusan dengan masalah jumlah seringkali menjadi sandungan untuk kemenangan yang sudah ada di depan mata. Karena ruhiyah tergadaikan di hadapan angka-angka itu. Dan Allah pun mencabut keridhaannya.
Sirah Nabawiyah telah memberikan pelajarannya untuk kita. Saat Perang Badar jumlah pasukan muslimin kira-kira sepertiga dari pasukan kaum musyrik. Dan umat Islam menang. Saat Perang Khandak jumlah pasukan kafir yang mengepung bahkan lebih banyak dari jumlah keseluruhan penduduk Kota Madinah. Dan umat Islam menang.
Justru saat jumlah pasukan muslimin mencapai 12 ribu di Perang Hunain, saat itu terpukul mundur. Dan Allah mengabadikan penyebabnya,
"Sesungguhnya Allah Telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai." (Qs. at-Taubah: 25)
Dari sini kita bisa lebih mendalami ayat,
"...Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Qs. al-Baqarah: 249)
Inilah yang ditakutkan Nabi terjadi pada kita dari sejak beliau di Madinah. "Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan terjadi pada kalian. Tetapi aku takut ketika dunia ini dibuka di hadapan kalian. Kalian akan berlomba mendapatkannya sebagaimana orang dahulu mendapatkannya. Dan dunia menghancurkan kalian sebagaimana mereka dulu pun hancur karenanya." (HR. Muslim)
Aktifitas perpolitikan bagi kita adalah aktifitas dakwah. Aktifitas bernilai ibadah. Tetapi harus disadari betul bahwa beda antara politik yang bernilai ibadah dan politik yang murni mengejar jabatan dan harta sangatlah tipis. Salah niat, terpeleset pada kesalahan yang fatal.
Maka akan sangat fatal jika osteoporosis ruhiyah karena aktifitas dunia perpolitikan ini dianggap sebagai sebuah konsekuensi logis. Dianggap wajar jika terjadi degradasi ruhiyah karena percepatan dakwah di antaranya dengan aktifitas politik ini. Logika yang dipakai begini: seperti sebuah kendaraan yang dipacu dengan kecepatan tinggi, ditambah lagi dengan politik yang sangat panas, maka kendaraan ini bisa turun mesin dan ruhiyah menjadi ikut kepanasan.
Padahal kita diajari dalam dakwah ini bahwa ruhiyah yang kokoh adalah keniscayaan. Jika betul ruhiyah menjadi kering karena percepatan dan perpolitikan, seharusnya semua segera kembali membenahi ruhiyah ini. Bahkan lebih. Karena jika dulu kita memakai satu pendingin, kini dengan suasana panas ini sudah pasti jumlah pendingin itu harus ditambah. Bukan justru ungkapan di atas digunakan sebagai legitimasi atas osteoporosis ruhiyah yang sedang terjadi.
Dakwah akan menuai hasilnya. Bumi ini memang akan Allah serahkan kepada kita. Maka kalau kita harus belajar banyak untuk tidak mudah berubah karena harta dunia.

3. Berkurangnya kebaikan dan hilangnya amal unggulan
Osteoporosis yang menyerang tulang, salah satu penyebabnya adalah tulang yang kurang sering digerakkan. Ruhiyah pun demikian. Berbagai macam cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengannya ruhiyah kita terasa begitu tinggi. Untuk menguatkan ruhiyah perlu ada pergerakan. Gerak untuk puasa, gerak untuk bangun malam dan shalat, gerak untuk dzikir dan wirid, gerak untuk ilmu yang baik, gerak untuk tilawah dan sebagainya. Jika telah mandeg bergerak, maka osteoporosis ruhiyah dipastikan akan terjadi.
Cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan cara melaksanakan kewajiban dengan cara terbaik. Shalat umpamanya, yang terbaik adalah jamaah, di masjid bagi laki-laki, tepat waktu dan seterusnya. Menuntut ilmu wajib, maka punyailah keuletan dalam menuntut ilmu, lakukan apa saja sarana untuk meraihnya, gemarilah buku yang menjadi jendela ilmu, punyailah adab terhadap guru dan ilmu. Begitulah untuk semua kewajiban.
Selanjutnya, amalan sunnah. Sadar bahwa tidak semua kita mampu mengambil semua yang sunnah, maka ambillah yang bisa kita laksanakan dan rutinkan. Kata terakhir ini yang sangat sulit, merutinkan sesuatu. Mungkin ada yang mudah baginya tilawah, maka rutinkan tilawah itu. Ada yang mudah baginya bangun malam untuk qiyamullail, maka rutinkan tahajjud itu. Begitu seterusnya untuk amalan sunnah lainnya.
Ini dalam rangka kita mencapai amal unggulan. Setiap kita harus mempunyai amal unggulan.
Lihatlah Khalid bin Walid yang amal unggulannya adalah jihad. Tak pernah kalah pasukan yang dipimpin oleh Khalid, baik saat dia masih kafir ataupun sudah beriman. Saat orang masih berpikir bagaimana menaklukkan padang pasir Syam, Khalid menempuhnya dalam waktu yang lebih singkat, perang dan kemudian menang. Benar-benar amal unggulan baginya.
Suatu saat Khalid menjadi imam untuk shalat jamaah bagi pasukannya. Dia membaca surat-surat pendek yang memang hanya itu yang dihapalnya. Ternyata Khalid salah membacanya. Dia diprotes oleh salah satu pasukannya, karena ini tentang al-Qur'an. Yang sudah seharusnya setiap kader dakwah akrab dengannya. Khalid menjawab: Saya disibukkan oleh jihad dari al-Qur'an.
Khalid bin Walid layak berbicara seperti itu. Karena jihad benar-benar amal unggulannya yang tidak satu pun shahabat mampu menyainginya. Tidak Abu Bakar, tidak Umar, tidak Ali dan tidak yang lainnya.
Jika amal kewajiban saja tidak bisa kita persembahkan dengan baik, maka amalan sunnah akan lebih jauh. Dan amal unggul akan lebih jauh lagi. Jika sudah seperti itu, maka ruhiyah ini akan hancur.
Osteoporosis ruhiyah, satu masalah dengan banyak penyebab, di antaranya poin-poin di atas. Yang terpenting dari sebuah analisa akan penyakit adalah mengetahui sisi lemah orang yang berbeda-beda. Dan seharusnya dia segera menjauh dari lingkungan yang menjadi sisi lemahnya. Selanjutnya memberikan terapi ruhiyah. Dan dari sana kita bisa memulai sebuah perjalanan dakwah yang panjang ini dengan ruhiyah yang tinggi dan kokoh. Perlahan tapi pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar