Subhanallah… Walhamdulillah… Walaillahailallah… Wallahu Akbar… gemuruh takbir di dalam hati ini membuncah penuh kebahagiaan yang luar biasa. Ijab Kabul telah ia ucapkan dengan lantang. Ketika Kyiai Hasan memimpin doa barakah untuk kami, kupejamkan mata ini penuh khusyuk.
“Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair” Semoga berkah Allah tetap keatasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. (HR. Imam Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)
Sambil mengamini, airmata yang sudah sejak tadi ada ditepi pelupuk mata, tumpah.. Maha Suci Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mulai detik ini, aku bukan mahasiswi kedokteran yang biasa. Aku sekarang seorang istri dari seorang ikhwan yg sholeh. Welcome my new world! Sungguh senyum merekah ini tak bisa ditahan lagi. Aku sungguh bahagia.
Dia berbalik menatapku aku pun dengan malu-malu menatap wajahnya yang telah memberiku senyum simpul yang begitu manis. Aku cium tangannya, dia mencium keningku. Aku benar-benar bahagia.
Masih teringat jelas dalam memori ingatanku, hati ini sungguh bimbang. Bimbang untuk mengambil keputusan menikah. Kala itu, ada seorang ikhwan sholeh yang mengkhitbahku untuk menjadi teman hidupnya. Aku sudah lama mengenalnya. Aku tahu betul tinggi ilmu agamanya, kesholehannya, keluarganya yang begitu Islami, kecerdasan akademiknya, begitu banyak aktif di berbagai organisasi tingkat sekolah dan nasional, bahkan dia sudah menyandang gelar hafidz ketika duduk dibangku SMA. Meskipun aku begitu kagum padanya dan memendam rasa yang sama, tapi sungguh amat sulit bagiku. Karena yang ada dibenakku, aku pasti tidak akan bisa lagi berorganisasi, tidak bisa lagi focus belajar demi akademikku yang gemilang di fakultas kedokteran, tidak bisa lagi berdakwah memberi kajian mentoring seperti biasa. Pasti hanya terkunci dalam peraturan suami. Pasti seusai kuliah langsung pulang, memasak, mencuci dan pekerjaan rumah tangga yang lain. Itu-itu saja. Tanpa bisa mengembangkan diri seperti sebelum menikah.
Berbagai perang pemikiran berkecamuk dalam pikiranku. Aku pernah dengar seorang seniorku di SMA. Dia seorang akhwat sholeha, kemudian memutuskan menikah ketika menginjak semester 4, sama sepertiku. Dia tempat aku bertanya banyak hal. Dia juga seorang murobi, sama sepertiku. Tapi setelah dia menikah, aku tak pernah menemukannya lagi di serambi masjid Tanwirul ‘Ilmi di SMA kami seperti biasa setelah kami memberikan materi mentoring kepada adik-adik kami. Atau di serambi masjid Syuhada biasanya dia berbagi ilmu Qira’ahnya denganku. Ternyata dia tak lagi mengisi kajian mentoring seusai menikah. Ada juga seorang mahasiswi kedokteran yang menikah pada semester 7, kini sudah memiliki 3 anak yang masih sangat kecil. Terdengar bahwa kuliahnya terbengkalai, sudah beberapa tahun ini tetapi kabarnya ia belum juga lulus. Begitu banyak realita yang ada mengabarkan seperti itu, membuat hati kecilku ciut untuk meneruskan niat ini, membuat hatiku menjadi keras, membuat pikiranku terpaku pada kelulusan dan mengesampingkan sunnah Rasul-Nya ini.
Ternyata semua paradigmaku itu salah total. Realita yang kutemukan justru sebaliknya. Kini, setiap malam, di waktu rasa malas datang, ada seseorang yang selalu memberikan pelukan mesra untuk menambah semangat belajar. Juga dalam hal organisasi, yang tadinya aku pikir akan serba terbengkalai dan tidak bisa lagi aktif, justru sebaliknya. Aku jadi punya partner diskusi tentang organisasi yang aku ikuti dan hasilnya? Subhanallah… justru lebih tertata, lebih mudah dijalankan dan lebih seru. Betapa tidak? Dia sudah sangat berpengalaman dalam berbagai organisasi. Dia selalu menjabat posisi penting di setiap organisasi yang ia tekuni. Mulai dari ROHIS, ia tak hanya jadi ketuanya, tapi ketua Forum Antar Rohis se-Kabupaten daerah di SMA-nya dulu. Di TONTI (Peleton Inti), dia bahkan menjabat sebagai komandan peleton atau danton sekaligus sebagai ketuanya. Di OSIS, dia menjabat sebagai sekretaris. Di luar sekolahnya, dia menjadi sekretaris redaksi sebuah majalah Islami, kemudian menjadi wakil dari Forum anti narkoba di daerah sekolahnya. Kini, di Universitasnya, ia aktif di Rohis Fakultasnya dan BEM. Dia selalu memberikan masukan untukku dalam mengemban setiap amanah dalam berorganisasi. Dia juga sering menawarkan diri mengantarku mencari segala hal menyangkut kepanitiaan yang aku ikuti.
Tak hanya itu, kami saling memberi semangat satu sama lain ketika salah satu diantara kami merasa capek atau jenuh dalam kuliah atau organisasi. Sungguh indah yang kami rasakan. Begitu pula dalam dakwah, yang tadinya aku pikir tidak akan bisa lagi memberi kajian mentoring pada adik-adik tercintaku, tapi justru sebaliknya. Kini, selalu ada yang mengantarkku menuju tempat mentoring. Sementara aku memberi kajian mentoring, dia menungguku dengan setia sambil duduk di beranda masjid untuk sholat sunnah dan tilawah Al-Qur’an hingga aku selesai memberikan materi. Benar-benar suami idaman. Alhamdulillah…
Cinta yang dibangun dalam kesucian pernikahan sungguh indah dirasa. Begitu membuncah dalam dada. Keromantisannya pun terlihat dan benar-benar membuatku meleleh. Tak pernah terpikir olehku, dia yang dulu begitu kaku menghadapiku, selalu menundukkan pandangan, menelungkupkan tangan ketika hendak berjabat, kini begitu lembut tutur katanya. Penuh mesra membimbingku setiap harinya. Senyum manisnya selalu mengembang ketika menatapku, membuat degup jantungku ini begitu cepat, dibalut rasa cinta yang luar biasa.
Kala itu, setelah walimatul ‘ursy diadakan di gedung Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia, aku langsung diboyong ke rumah kami di jalan Kaliurang km 9. Di rumah kami itulah rajut-rajut cinta kami bangun penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Di waktu sepertiga malam yang terakhir, kini, aku tak lagi sendiri bermunajat kepadaNya. Ada sang imam yang turut dalam belaian kasih sayang-Nya itu. Waktu itu, seusai sholat, aku mencium tangannya, lama sekali tak kulepas. Aku larut dalam isak haru memiliki suami sepertinya. Suami yang begitu sholeh, hafal qur’an, dari keluarga yang begitu Islami, begitu romantis, begitu penuh kasih sayang, begitu perhatian, begitu sabar, cerdas akademik dan organisasinya, dan penuh cinta.
Dia mengangkat kepalaku dengan lembut, memberi senyum manis lalu berkata “Kenapa sayang?” ujarnya sambil menghapus airmataku dengan suara yang begitu lirih, membuatku meleleh.
Aku tersenyum dan berkata “ Aku sungguh beruntung memilikimu, Mas”. Dia dekatkan wajahnya ke wajahku, menatap bola mataku, lalu dengan penuh lembut ia berkata “Dan tak ada ikhwan yang jauh lebih beruntung didunia ini selain aku yang memiliki bidadari sepertimu. Seorang calon dokter sholeha, dari keluarga yang terpandang, seorang aktivis dakwah yang mau mengorbankan masa mudanya bersamaku, melabuhkan segenap cintanya untuk mengarungi bahtera hidup, berjihad bersamaku, menerimaku apa adanya, menemani setiap hembusan nafasku hingga nafas yang terakhir. Sungguh hanya engkau istriku, yang kelak menjadi ratu bidadari surgawi bagiku, yang membuat iri bidadari surga yang lain”. Airmataku meleleh tak mau henti. Nikmat Rabb-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Dia begitu sabar menghadapiku, mendampingi setiap tapak langkah hidupku, menemani setiap tangis dan tawaku, mendorong setiap ikhtiar akademikku. Hingga hari yang benar-benar kunanti tiba… Aku kenakan jas putih kebanggaanku dan dengan lantang bersama-sama mengikrarkan…
Demi Allah, saya bersumpah bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbang an keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
Subhanallah… dan yang membedakan UII dengan yang lain adalah… Kami juga melafadkan Sumpah Dokter Muslim..
SUMPAH DOKTER MUSLIM
Saya Bersumpah Dengan Nama Allah yang Maha Besar :
[1]Mengingat Allah dalam menjalankan profesi saya.
[2]Melindungi jiwa manusia dalam semua tahap dan semua keadaan.
[3]Melakukan semampu mungkin untuk menyelamatkan dari kematian, penyakit dan kecemasan.
[4]Memelihara kemuliaan manusia, menutupi pribadinya dan menyimpan rahasianya.
[5]Dalam segala hal menjadi alat dari rahmat Allah, memberikan perawatan kedokteran pada yang dekat dan yang jauh, yang saat dan yang berdosa, serta teman maupun lawan.
[6]Berjuang mengejar ilmu dan mempergunakannya untuk keuntungan bukan aniaya bagi manusia.
[7]Menghormati guru saya dan mengajari sejawat saya yang masih muda dan menjadikan saudara bagi setiap anggota profesi kedokteran yang bersatu dalam kesucian amal.
[8]Memelihara kepercayaan saya dalam beribadah dan dalam masyarakat, menghindari dari segala yang dapat menodai saya di mata Allah, NabiNya dan orang yang seaqidah dengan saya. Allah menjadi saksi terhadap sumpah saya ini.
Subhanallah… Walhamdulillah… Aku hela nafas panjang. Aku tersenyum memandang suamiku yang sedaritadi menatapku di atas panggung saat pembacaan Sumpah Dokter. Dia tersenyum lebar.. dan tentunya mujahid cilik kami yang digendong abinya juga tersenyum menatap Umminya. Subhanallah…
Betapa indah yang kulalui semenjak memutuskan untuk menikah. Segala hal yang aku anggap akan berubah menjadi tidak enak justru menjadi luar biasa. Aku masih bisa berorganisasi bahkan selalu dibantu dan didukung sang suami. Aku masih bisa berdakwah, menjalankan tugasku sebagai muslimah, bahkan dia pun tak pernah absen mengantarku dalam berjihad dijalan-Nya itu. Aku masih bisa terus berprestasi dalam akademik bahkan aku bisa menyelesaikan study dengan baik dan tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Karena sejak awal, aku tak ingin jadi dokter biasa. Aku ingin jadi dokter yang luar biasa. Tak hanya dokter yang cemerlang ilmu medisnya, tapi juga gemilang dalam akhlak dan dakwah-Nya.
Terimakasih Ya Rabbi.. ya Rahman.. ya Rahim..
Karena limpahan rahmat dan rizki-Mu, aku memiliki suami yang begitu sholeh…
Terimakasih Suamiku tercinta…
Karena pelukmu, aku bisa selalu bersemangat dalam mengejar cita..
Terimakasih belahan jiwaku…
Karena cintamu, aku kuat menghadapi segalanya…
Terimakasih untuk setiap teh buatanmu kala aku lembur belajar tutorial dan praktikum…
Terimakasih atas kesabaranmu menjadi probandusku setiap aku akan ujian medik…
Terimakasih karena selalu mengingatkanku makan dikala padat kuliah…
Terimakasih karena selalu menjaga mujahid cilik kita kala aku jaga IGD waktu koAs dulu…
Terimakasih untuk doa tulusmu yang membuatku sukses hingga detik ini…
Terimakasih atas setiap petuahmu yang membuatku makin dewasa…
Terimakasih atas setiap tausyiahmu ba’da sholat fardhu yang membuatku makin mencintai-Nya…
Trimakasih untuk mujahid cilikku…
Karena senyummu, ummi selalu semangat belajar nak…
Terimakasih karena nggak rewel ketika ummi tinggal koAs…
Terimakasih karena buat ummi terharu ketika pertama kali memanggil ummi…
Membuat ummi semakin giat untuk memberikan yang terbaik untukmu…
Allahu rabbi… Ya hayyu Ya Qayyum terimakasih atas suami yang sholeh dan mujahid cilikku yang begitu lucu ini….
Segala Puji hanya bagi-Mu Ya Rabb… yang telah melimpahkan begitu banyak cinta untuk kami…
Kumpulkan kami di Jannah-Mu yang terindah ya Rabb-ku…
Jadikan hamba Sholehah untuk suami.. dan buah hati kami… Yang tercinta…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar