
Ummu Sulaim binti Milhan Totalitas dalam Mendidik Anak
Anas bin Malik bin Nadhr ra, salah seorang sahabat yang mulia. Usianya baru sepuluh tahun pada waktu Rasulullah Saw hijrah ke Madinah Munawwarah. Ibunya bernama Ummu Sulaim, seorang wanita yang namanya dicatat sejarah sebagai wanita yang paling mulia mahar pernikahannya dengan Abu Talhah, yaitu islamnya Abu Talhah setelah terjadi diskusi yang menarik antara keduanya.
Ketika itu Ummu Sulaim sudah masuk Islam sedangkan suaminya, Malik bin Nadhr, masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya, menyembah berhala. Dengan semangat keislaman yang tinggi, ia pun menuntun Anas kecil untuk melafadhkan kalimat tauhid, persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia tidak ingin buah hati kesayangannya itu salah dalam memilih jalan hidupnya kelak. Sang anak pun dengan senang hati melafadhkan kalimat mengikuti ibunya.
"Jangan kau rusak anakku agar memusuhiku!!" kata suaminya yang ketika itu masih dalam kekufuran.
"Aku tidak merusaknya! Aku hanya mengajaknya untuk beriman kepada Rasulullah!" jawabnya tegas.
Sungguh, apa yang telah dilakukan oleh Ummu Sulaim itu adalah perihal yang besar, yang tidak akan dilakukan oleh mereka yang berjiwa kerdil.
Sepeninggal suaminya, Malik bin Nadhr, ia mendidik putranya dengan cinta, dan mengasuhnya dengan kasih sayang. Cinta dan kasih sayangnya yang tinggi kepada putranya itulah yang mendorong hatinya untuk berjanji, "Sungguh, aku tidak akan menyapih Anas sampai dia sendiri yang meninggalkan susuan dalam keadaan hidup! Dan sungguh, aku tidak akan menikah lagi sampai Anas yang memintaku untuk menikah!"
Ummu Sulaim benar-benar totalitas dalam mendidik buah hatinya, yang merupakan amanah dari Allah untuk dijaga. Iapun tidak menyia-nyiakan amanah itu, dengan mengajarinya ketauhidan pada waktu putranya masih kecil, dan mendidiknya dengan sepenuh hati.
Ketika hal itu disampaikan pada Anas maka ia segera membalas janji ibundanya itu dengan mengatakan, "Semoga Allah membalas jasa-jasamu dengan segala kebaikan, engkau telah benar-benar dalam merawatku."
Janji yang diucapkannya pun bukan hanya di mulut saja, tapi benar-benar ia pegang. Hingga akhirnya di saat Anas sudah beranjak dewas dan telah melewati masa persusuan, datanglah kepadanya Abu Talhah, seorang lelaki musyrik yang hendak melamarnya.
"Wahai Abu Talhah, tidakkah engkau tahu bahwa tuhan yang kamu sembah itu adalah kayu dari pepohonan di bumi?" kata Ummu Sulaim ketika menemui Abu Talhah yang datang melamarnya.
"Ya, aku tahu." jawab Abu Talhah.
"Tidak malukah engkau menyembah pohon?!"
Abu talhah terdiam, lalu Ummu Sulaim melanjutkan lagi kata-katanya, "Kalau kamu mau masuk Islam dengan benar, maka aku tidak ingin mahar lagi selain itu darimu."
"Biarkan aku memikirkannya." kata Abu Talhah. Lantas ia pergi. Sesaat kemudian ia kembali menemui Ummu Sulaim dan berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!"
Lalu Ummu Sulaim mendekati Anas putranya dan berkata, "Wahai Anas anakku, nikahkanlah Abu Talhah denganku."
Tidak cukup sampai di situ saja, setelah Rasulullah Saw tiba di Madinah, Ummu Sulaim segera menemui beliau untuk menyerahkan putranya agar menjadi pelayan Rasulullah Saw sekaligus muridnya. Sehingga tidak mustahil kalau Abu Hurairah, salah seorang sahabat yang menempati posisi paling atas dalam hal meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw, itu mengatakan, "Aku belum menemukan orang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah Saw melebihi Ibnu Ummi Sulaim, yaitu Anas." (Semua perawinya tsiqah. Kitab Siyar A'lamin Nubala' Jilid 3, halaman 400).
Begitulah Ummu Sulaim yang totalitas dalam mentarbiyah buah hatinya, hingga akhirnya kelak tercetaklah sosok besar dari kalangan sahabat, Anas bin Malik, ahli ilmu, ahli hadits, Mufti besar. Anas adalah sahabat yang paling terakhir meninggalkan dunia dari sahabat-sahabat Rasulullah lainnya.
Pendidikan dalam keluarga yang mendukung ditambah dengan pendidikan di Madrasah Nabawiyah telah membentuk orang besar seperti Anas bin Malik, yang namanya hingga hari ini masih dikenal banyak orang.
Ketika itu Ummu Sulaim sudah masuk Islam sedangkan suaminya, Malik bin Nadhr, masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya, menyembah berhala. Dengan semangat keislaman yang tinggi, ia pun menuntun Anas kecil untuk melafadhkan kalimat tauhid, persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia tidak ingin buah hati kesayangannya itu salah dalam memilih jalan hidupnya kelak. Sang anak pun dengan senang hati melafadhkan kalimat mengikuti ibunya.
"Jangan kau rusak anakku agar memusuhiku!!" kata suaminya yang ketika itu masih dalam kekufuran.
"Aku tidak merusaknya! Aku hanya mengajaknya untuk beriman kepada Rasulullah!" jawabnya tegas.
Sungguh, apa yang telah dilakukan oleh Ummu Sulaim itu adalah perihal yang besar, yang tidak akan dilakukan oleh mereka yang berjiwa kerdil.
Sepeninggal suaminya, Malik bin Nadhr, ia mendidik putranya dengan cinta, dan mengasuhnya dengan kasih sayang. Cinta dan kasih sayangnya yang tinggi kepada putranya itulah yang mendorong hatinya untuk berjanji, "Sungguh, aku tidak akan menyapih Anas sampai dia sendiri yang meninggalkan susuan dalam keadaan hidup! Dan sungguh, aku tidak akan menikah lagi sampai Anas yang memintaku untuk menikah!"
Ummu Sulaim benar-benar totalitas dalam mendidik buah hatinya, yang merupakan amanah dari Allah untuk dijaga. Iapun tidak menyia-nyiakan amanah itu, dengan mengajarinya ketauhidan pada waktu putranya masih kecil, dan mendidiknya dengan sepenuh hati.
Ketika hal itu disampaikan pada Anas maka ia segera membalas janji ibundanya itu dengan mengatakan, "Semoga Allah membalas jasa-jasamu dengan segala kebaikan, engkau telah benar-benar dalam merawatku."
Janji yang diucapkannya pun bukan hanya di mulut saja, tapi benar-benar ia pegang. Hingga akhirnya di saat Anas sudah beranjak dewas dan telah melewati masa persusuan, datanglah kepadanya Abu Talhah, seorang lelaki musyrik yang hendak melamarnya.
"Wahai Abu Talhah, tidakkah engkau tahu bahwa tuhan yang kamu sembah itu adalah kayu dari pepohonan di bumi?" kata Ummu Sulaim ketika menemui Abu Talhah yang datang melamarnya.
"Ya, aku tahu." jawab Abu Talhah.
"Tidak malukah engkau menyembah pohon?!"
Abu talhah terdiam, lalu Ummu Sulaim melanjutkan lagi kata-katanya, "Kalau kamu mau masuk Islam dengan benar, maka aku tidak ingin mahar lagi selain itu darimu."
"Biarkan aku memikirkannya." kata Abu Talhah. Lantas ia pergi. Sesaat kemudian ia kembali menemui Ummu Sulaim dan berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!"
Lalu Ummu Sulaim mendekati Anas putranya dan berkata, "Wahai Anas anakku, nikahkanlah Abu Talhah denganku."
Tidak cukup sampai di situ saja, setelah Rasulullah Saw tiba di Madinah, Ummu Sulaim segera menemui beliau untuk menyerahkan putranya agar menjadi pelayan Rasulullah Saw sekaligus muridnya. Sehingga tidak mustahil kalau Abu Hurairah, salah seorang sahabat yang menempati posisi paling atas dalam hal meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw, itu mengatakan, "Aku belum menemukan orang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah Saw melebihi Ibnu Ummi Sulaim, yaitu Anas." (Semua perawinya tsiqah. Kitab Siyar A'lamin Nubala' Jilid 3, halaman 400).
Begitulah Ummu Sulaim yang totalitas dalam mentarbiyah buah hatinya, hingga akhirnya kelak tercetaklah sosok besar dari kalangan sahabat, Anas bin Malik, ahli ilmu, ahli hadits, Mufti besar. Anas adalah sahabat yang paling terakhir meninggalkan dunia dari sahabat-sahabat Rasulullah lainnya.
Pendidikan dalam keluarga yang mendukung ditambah dengan pendidikan di Madrasah Nabawiyah telah membentuk orang besar seperti Anas bin Malik, yang namanya hingga hari ini masih dikenal banyak orang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar