Pesan Untuk Orangtua : Harus 100 Persen Halal (Halal 3)

Seperti sabda Nabi mulia yang menjaga keluarga-keluarga muslim dalam masalah kehalalan rizkinya,
وعن النعمان بن بشيرٍ رضي الله عنهما ، قَالَ : سَمِعْتُ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، يقول : (( إنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ ، وَإنَّ الحَرامَ بَيِّنٌ ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبَهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ ، اسْتَبْرَأَ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ في الحَرَامِ ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ ، ألاَ وَإنَّ لكُلّ مَلِكٍ حِمَىً ، ألاَ وَإنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ ، ألاَ وَإنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَت صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، ألاَ وَهِيَ القَلْبُ )) متفقٌ عَلَيْهِ
Dari Nu'man bin Basyir radhiallahu anhuma, dia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari yang syubhat maka sungguh ia telah menjaga agama dan dirinya. Barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat (dikhawatirkan) akan terjatuh pada yang haram. Seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan dia masuk ke daerah itu. Sesungguhnya setiap raja itu mempunyai daerah terlarang dan ketahuilah sesungguhnya wilayah terlarang Allah adalah yang diharamkannya.
Ketahuilah sesungguhnya dalam jiwa ini ada segumpal daging yang jika ia baik maka baiklah seluruh anggota tubuh. Dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati." (HR. Muttafaq alaih).
Terlihat sangat indahnya ajaran Islam. Barang syubhat yang belum tentu haram pun dilarang untuk dinikmati. Kalau hari ini, sebagian orang benar-benar mengungkapkan bahwa berkelit dari yang haram sangat sulit. Sungguh, zaman ini perjuangan di bidang halal haram ini adalah jihad yang sangat agung pahalanya.
Hadits di atas juga mengisyaratkan pelajaran lain. Ada dua tema dalam satu hadits. Yang pertama adalah tentang halal, haram dan syubhat. Dan yang kedua adalah tentang baik dan buruknya tubuh karena baik dan buruknya hati.
Dua tema yang nampak tidak berhubungan itu sesungguhnya bertalian erat. Paling tidak ada dua talian:
Pertama, Hati yang baiklah yang bisa menjaga seseorang dari barang syubhat dan haram. Sebaliknya, jika ada yang terbiasa dengan barang yang syubhat apalagi haram, maka itu menunjukkan bahwa hatinya rusak.
Kedua, Rizki mempunyai peran dalam membentuk pertumbuhan hati seseorang. Jika rizkinya halal, maka hatinya akan bersih dan perbuatannya akan baik. Tetapi, jika banyak mengambil dan mengkonsumsi yang syubhat apalagi haram, maka akan membentuk hati yang buruk dan perbuatannya pun akan jahat dan gemar dosa.
Harta yang haram tidak akan pernah membawa keberkahan. Jika keberkahan telah pergi, maka yang ditunggu tinggal ketidaknyamanan dan kekisruhan dalam hidup. Itu adalah adzab di dunia sebelum adzab yang sesungguhnya di akhirat kelak. Rasulullah tegas menyampaikan,
وَلاَ يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالاَ مِنْ حَرَامٍ فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلاَ يَتَصَدَّقَ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ وَلاَ يَتْرُكَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلاَّ كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ وَلَكِنْ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ
"Dan tidak akan pernah diberkahi seorang hamba yang mencari harta yang haram, kemudian dia infakkan sekalipun. Juga tidak akan diterima infaknya itu. Dan jika ia masih menyimpannya setelah ia mati, maka itulah bekalnya menju neraka. Sesungghunya Allah azza wajalla tidak menghapus keburukan dengan keburukan, akan tetapi menghapus keburukan dengan kebaikan." (HR. Ahmad)
Tidak berkah dan tidak akan diterima amal dengan harta itu, jika ia masih hidup. Bekal menuju neraka saat ia mati dan masih ada simpanan harta haram itu. Naudzu billah.
Harta seperti ini sangat sulit menghadirkan orang-orang besar dan shalih. Padahal dunia hari ini sedang menanti dengan raut muka yang sudah kelelahan, akan kehadiran tokoh-tokoh yang hebat dan shalih.
Sehebat dan seshalih Umar bin Khattab. Mari kita simak pernyataan orang nomor satu di kekhilafahan yang telah terbentang dari Madinah hingga ujung Afrika itu,
"Saya menempatkan harta amanah Allah dalam jiwa saya seperti harta anak yatim. Siapa yang kaya maka, jagalah diri dari harta itu. Siapa yang fakir, maka makanlah dengan cara yang baik."
Dalam kesempatan lain Umar berkata tentang dirinya dan harta negara yang melimpah ruah saat itu, "Tidak halal dari harta ini kecuali yang cukup aku makan dari hartaku murni."
Ini sungguh perjuangan agung hari ini. Melihat dua ayat berikut akan semakin menjelaskan bahwa sangat tidak mudah memilah harta dan merasa puas dengan yang jelas halal saja.
يا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطيِّبَاتِ واعمَلُوا صالحاً
"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh." (Qs. al-Mukminun: 51).
يا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (Qs. al-Baqarah: 172)
Dua perintah yang sama agar hanya memakan harta yang halal. Perintah untuk orang-orang beriman ini ternyata sama persis dengan perintah untuk para rasul. Ini artinya, perintah ini sungguh merupakan perintah untuk kelas para rasul. Di sinilah jihadnya!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar