Selasa, 03 November 2009

Melahirkan Orang Shalih dan Besar Dengan Makanan Halal (Halal 1)

Melahirkan Orang Shalih dan Besar Dengan Makanan Halal


Nutrisi yang baik dengan gizi yang tinggi sangat diperlukan untuk pertumbuhan baik bagi anak. Orang tua akan selalu memberikan semampu yang mereka bisa usahakan untuk itu. Berjibaku untuk memenuhi susu yang harganya tidak terjangkau bagi kebanyakan masyarakat bawah. Negeri yang melimpah dengan kekayaan alam ini masih menghadirkan pemandangan gizi buruk, kalau tidak mau disebut busung lapar

. Jika gizi telah terpenuhi dengan baik, maka diharapkan anak akan mempunyai pertumbuhan fisik dan otak yang juga baik. Sebaliknya, jika nutrisinya tidak seimbang dan tidak tercukupi dengan baik, maka pasti terjadi gangguan pada pertumbuhan baik fisik ataupun otak.

Tema pentingnya gizi adalah pembahasan yang telah disepakati oleh dunia internasional. Dalam hal ini, Islam juga sangat memperhatikan masalah pertumbuhan fisik dan otak generasi ini.
Bahkan Islam telah memberikan arahan tentang nutrisi sejak bayi agar kelak tumbuh sehat dan sempurna. Seperti anjuran ayat tentang penyusuan bagi sang bayi. Dua tahun sempurna adalah anjuran untuk lamanya sang ibu menyusui bayinya. Tidak diserahkan kepada sapi untuk disusui, sementara orangtuanya asyik bersolek dan menjaga penampilan tubuhnya.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ


"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan." (Qs. al-Baqarah: 233)
Dan ternyata, penelitian ilmiah hari ini menguatkan ayat yang telah diturunkan sejak 15 abad silam sebelum ada teknologi canggih yang mengungkap manfaatnya. Dari mulai menciptakan kekebalan tubuh bayi yang lebih baik, terhindar dari berbagai penyakit, bahkan penjagaan kesehatan ternyata sangat bermanfaat bagi ibu. Dua tahun juga merupakan rentang waktu yang telah dibuktikan secara ilmiah dan dianjurkan oleh badan kesehatan dunia.
Ternyata Islam tidak saja bicara tentang masalah gizi tinggi. Ada kajian plus, kajian spiritual. Dan Islam selalu begitu. Tidak ada pembicaraan dunia yang terpisah dari akhirat.
Nutrisi yang halal. Itulah kajian spiritual untuk nutrisi bagi generasi. Bukan saja bergizi, tetapi juga jelas halal. Untuk melahirkan generasi yang kokoh, pintar, hebat, shalih, baik, mengerti bakti, harus diperhatikan nutrisinya dari sisi kualitas gizi dan dari segi kehalalannya.

HALAL, Dari hasan kecil hingga bukhari kecil (Halal 2)

Islam melahirkan orang-orang besar dan shalih. Kebesaran dan keshalihan yang tergabung pada seseorang adalah sebuah anugerah besar bagi umat ini. Karena di tangan orang-orang seperti itulah keadilan di muka bumi ini akan tegak. Dengan keadilan, masyarakat luas akan hidup dengan nyaman, sejahtera dan dalam kebersamaan yang indah.
Unsur makanan dan minuman mendapat perhatian tersendiri untuk melahirkan orang besar dan shalih. Karena kekuatan fisik, energi otak dan gerak

aktifitas harus ditopang dengan makanan dan minuman.
Kehalalan adalah suatu keharusan yang tiada pilihan lain bagi orangtua yang ingin menghadirkan generasi yang menyejukkan mata. Karena mereka tumbuh dengan apa yang disuapkan oleh orang tuanya sejak masih bayi.

Hasan Cucu Rasulullah

Kehati-hatian ini dicontohkan langsung oleh teladan kita dalam menjaga pertumbuhan cucunya. Kali ini, kisah Rasul bersama salah satu cucunya, Hasan bin Ali. Rasyid bin Malik yang menceritakan kisah yang diabadikan dalam kitab al-Ishabah (1/358) karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Saat itu Rasyid sedang berada bersama Nabi, ketika seseorang datang membawa buah korma. "Ini shadaqah," kata orang itu singkat sambil memberikan buah korma tersebut kepada para shahabat yang ada di tempat tersebut. Bersama mereka, terlihat Hasan kecil yang tertarik dengan korma yang dilihatnya. Tangan mungilnya dijulurkan dan di telapaknya terdapat beberapa biji korma. Dalam sekejap, sebiji korma telah berpindah ke mulut mungilnya. Kunyahan asyik si bocah yang belum tahu menahu itu dihentikan oleh tangan mulia kakeknya, Rasulullah Muhammad. Rasul yang melihat Hasan mengunyah korma shadaqah itu langsung memasukkan jarinya ke mulut Hasan untuk mengeluarkannya. Korma berhasil dikeluarkan oleh Nabi dari mulut Hasan dan kemudian dibuang.
Pada kesempatan yang disaksikan oleh beberapa shahabat itu, Nabi menjelaskan tindakan yang terlihat begitu tegas tersebut. "Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak memakan shadaqah."
Sebuah peristiwa kecil yang amat sarat makna dan pesan. Untuk siapapun yang ingin melahirkan generasi seperti Hasan yang saat besar menjadi khalifah, orang nomor satu di negeri muslim sepeninggal ayahnya, Ali. Dan yang kelak akan memimpin para pemuda di surga bersama kembarannya Husain, seperti yang dinyatakan oleh Nabi dalam hadits yang shahih.
Generasi besar dunia akhirat. Bukankah generasi seperti ini yang didambakan oleh setiap keluarga.
Rasulullah tidak menyepelekan sekecil apapun peristiwa jika itu berhubungan dengan generasi calon penerus perjuangan. Mungkin dengan mudah dan sederhana hari ini dikatakan bahwa jika dilakukan oleh anak kecil seharusnya tidak perlu seketat itu. Toh, masih kecil. Tetapi tidak untuk Rasul dan siapapun yang ingin generasi sehebat Hasan.
Bahkan saat korma itu telah dimasukkan ke dalam mulutnya. Seorang kakek yang biasanya cenderung lebih longgar dibandingkan orang tuanya sendiri. Tetapi tidak bagi Rasulullah untuk makanan yang haram.

Bukhari Kecil
Imam Bukhari, siapa yang tak mengenalnya. Amirul mukminin dalam hadits. Yang memiliki kitab yang paling shahih setelah al-Qur'an, yaitu kitab Shahih Bukhari. Kitab yang berisi sekitar 4000 riwayat jika tidak dihitung bersama pengulangan riwayat yang ada itu, merupakan pilahan dan pilihan dari 300.000 riwayat hadits yang dihapalnya. 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih. Imam Muslim yang pernah berjumpa dengannya, sangat kagum dengan kemampuannya dalam mengungkap cacat riwayat yang amat tersembunyi. Hingga Imam Muslim mengatakan, "Ijinkan aku mencium keningmu, wahai gurunya para guru."
Sekelumit tentang Bukhari di atas menunjukkan kecerdasan, kemampuan, keshalihan.
Tetapi yang jarang diketahui oleh orang adalah bahwa kebesaran Bukhari tidak pernah lepas dari kehebatan sang ayah yang membesarkannya. Bukhari tidak lahir dari seorang ayah ulama. Seorang ayah biasa, tetapi mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga nutrisi generasi yang diberikan sejak masih bayi. Nutrisi halal. Bukan yang syubhat apalagi haram!
Sebuah momen penting yang disampaikan oleh ayahnya Bukhari yang bernama Ismail. Seperti yang diceritakan Ahmad bin Hafsh yang langsung menyaksikan peristiwanya. Kisah ini dicantumkan oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya tentang biografi yang sangat terkenal Siyar a'lam an-Nubala': 12/447.
Saat itu Ahmad bin Hafsh menemui Ismail, ayahanda Imam Bukhari dalam keadaan lemah terbaring. Dalam keadaan yang sudah sangat kritis dan sedang meregang nyawa. Ahmad bin Hafsh menirukan pernyataan ayah Bukhari saat dalam keadaan seperti itu, "Saya tidak mengetahui ada satu dirham pun dari hartaku yang haram. Dan tidak ada pula satu dirham pun yang syubhat."
Ahmad bin Hafsh mengungkapkan perasaannya saat mendengarkan kalimat agung tersebut, "Aku menjadi merasa kerdil pada saat itu."
Imam Bukhari sendiri hanya berkomentar, "Orang sangat jujur saat menjelang mati."
Kembali kita berhadapan dengan peristiwa sangat luar biasa dari seorang ayah. Ayah yang melahirkan orang hebat yang berada pada bidang yang bukan bidang ayahnya. Ulama besar yang diakui kebesaran dan keshalihannya sepanjang zaman.
Tak satu dirhampun yang syubhat apalagi yang haram. Syubhat sebenarnya belum haram. Hanya dikhawatirkan jatuh kepada yang haram. Selain dirham, dahulu ada dinar. Dinar lebih besar dari dirham karena dinar adalah mata uang emas yang secara berat dan nilai dibandingkan dirham yang terbuat dari perak.
Dirhamnya tak ada yang haram. Dinarnya pun demikian. Sama sekali. Yang syubhat saja tidak ada. Harta itulah yang digunakan untuk membesarkan anak-anaknya. Termasuk Bukhari kecil.
Bukhari kecil tidak pernah mengecap sedikit pun makanan dan minuman yang syubhat. Seratus persen ayahnya yakin akan kualitas kehalalan hartanya. Tanpa ada keraguan sedikit pun. Karena syubhat itulah yang sesungguhnya meragukan. Dan itupun tidak ada. Artinya tak ada sedikit pun harta yang meragukan.
Subhanallah! Pelajaran bagi setiap orang tua yang ingin melahirkan sekualitas Bukhari.

Abul Ma'ali Al-Juwaini
Ulama besar dalam bidang fikih dan ushulnya ini dikenal dengan sebutan Imam al-Haramain. Nama sesungguhnya adalah Abdul Malik bin Ruknul Islam Abu Muhammad. Pembawa bendera kebesaran dan ilmunya para ulama besar, begitu adz-Dzhahabi memujinya dalam Siyar.
Masa kecil Imam al-Haramain mempunyai sebuah kisah menakjubkan. Sebuah sikap sangat tegas dari seorang ayah yang juga seorang syekh di zamannya. Ayahnya mempunyai pekerjaan menyalin tulisan. Sedikit demi sedikit, uang yang didapatnya dikumpulkan dan digunakan untuk membeli seorang budak wanita yang dikenal sangat baik dan shalih.
Sejarah menyebutkan bahwa ayahnya Imam al-Haramain, Abu Muhammad menjaga betul makanan yang diberikan kepada budak wanitanya itu. Dia hanya memberikan yang halal saja dari jerih payahnya. Sampai suatu saat budak wanita itu mengandung (Budak wanita boleh dicampuri tanpa dinikahi). Di dalam kandungannya ada janin yang kelak adalah Imam al-Haramain (setelah melahirkan, budak wanita tidak boleh dijual dan akan bebas ketika majikannya meninggal).
Abu Muhammad berpesan agar bayi yang telah dilahirkan itu tidak disusui oleh selain ibunya. Dalam sebuah kesempatan, Abu Muhammad menemui ibu dari anaknya itu dalam keadaan sakit. Sementara Imam al-Haramain kecil sedang menangis. Abu Muhammad mengetahui bahwa ada salah satu wanita yang merupakan tetangganya telah berupaya menenangkan si kecil. Cara menenangkannya dengan disusui. Imam al-Haramain kecil pun mengisap susu dan diam dari tangisannya.
Abu Muhammad yang melihat peristiwa itu, merasa tidak nyaman. Karena dia sebelumya telah berpesan agar tidak ada susu yang masuk ke dalam perut anaknya kecuali susu ibunya sendiri.
Imam al-Haramain kecil di ambil oleh ayahnya, kepalanya ditundukkan, perutnya diusap-usap dan kemudian jari sang ayah dimasukkan ke dalam mulut si kecil. Dia terus melakukan itu hingga sang bayi memuntahkan semua yang diminumnya.
Sang ayah menjelaskan tindakannya itu, "Kematian bayi ini jauh lebih mudah buat saya dibandingkan rusaknya wataknya kelak karena meminum susu milik selain ibunya."
Saat Imam al-Haramaian menjadi ulama besar dan saat ia berada di majlis ilmu, terkadang ia mempunyai masalah. Terlihat diam sesaat seperti orang yang kehilangan kendali otaknya. Beliau menganggap, "Ini adalah sisa dari susuan itu dulu."
Sesungguhnya sang ayah pasti juga tahu bahwa sebenarnya seorang anak boleh disusui oleh siapapun. Nabi sendiri dulu disusui oleh orang lain. Dalam Islam juga ada aturan tentang penyusuan anak kepada ibu lain.
Justru di sinilah pelajarannya. Abu Muhammad tidak ingin anaknya meminum sesuatu yang tidak jelas dari tetangganya. Tentu hal ini tidak mengurangi rasa hormatnya kepada tetangga. Tetapi sebagai bentuk penjagaan kepada generasi agar tidak sembarang mengkonsumsi, karena mereka kelak harus tumbuh sebagai orang besar dan shalih. Dan sejarah menyebut, putra yang dijaga itu adalah Imam al-Haramain sang ilmuwan Islam ternama yang hebat.

Nawawi
Ulama besar dari negeri Suriah ini adalah ulama besar yang paling terkenal di dunia Islam hari ini. Bagaimana tidak, jika kitabnya Riyadhus Shalihin dikenal seantero dunia. Di Indonesia, kitab ini menjadi kitab yang paling dikenal oleh muslim Indonesia.
Imam Nawawi yang usianya hanya 45 tahun itu mempunyai karya-karya besar yang menunjukkan waktunya sangat berkah. Hari-harinya penuh ilmu dan karya. Ulama abad 7 ini menunjukkan kemampuannya di segala bidang ilmu. Keluasan otaknya, membuat seabreg ilmu yang dipelajari dan dikuasainya masih dirasa kurang. Sehingga suatu saat ia membeli kitab al-Qanun karya Ibnu Sina di bidang kedokteran. Walaupun akhirnya ia memutuskan untuk tidak meneruskan dan menjual kembali buku itu.
Bukan sebuah kebetulan, lahirnya orang besar dan shalih seperti Nawawi. Ayahnya memang bukan seorang ulama, tetapi ia tahu bagaimana mendidik generasi dengan orientasi ke depan yang sangat jauh.
Saat Nawawi kecil terlihat mempunyai kecenderungan ilmu yang tinggi. Aktifitas menjaga toko yang diajarkan kepada si kecil dihentikan. Nawawi kecil disuruh untuk konsentrasi menuntut ilmu. Nawawi didukung dengan luar biasa untuk belajar.
Dan penting bagi kita untuk melihat bagaimana Nawawi muda makan. Suatu saat ia berani memutuskan bahwa ia tidak akan makan buah sama sekali. Hal ini bukan berarti beliau mengharamkan sesuatu yang halal.
Keputusan yang sebenarnya secara kesehatan kurang baik itu, ditanyakan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Ibnu Atthar yang merupakan orang dekat Nawawi menukil jawaban Nawawi tentang permasalahan ini.
"Damaskus ini banyak tanah wakaf dan kepemilikan yang dilarang untuk dimanfaatkan. Kemudian muamalah dalam penggarapan tanahnya dengan menggunakan cara musaqah(bagi hasil) yang masih diperselisihkan oleh para ulama. Maka bagaimana jiwaku rela memakan hasilnya."
Ini pelajaran bagi siapapun. Kemampuan tingginya di bidang ilmu dan keshalihannya tidak pernah lepas dari cara dia makan dan minum.
Sesungguhnya Nawawi sendiri juga membenarkan dalil yang dipakai oleh mereka yang membolehkan Musaqah (bagi hasil). Tetapi dia tidak bisa menutup dari sementara sebagian ulama yang mengharamkan sistim muamalah yang satu ini. Begitulah kehati-hatian. Selama ulama masih berbeda pendapat, Nawawi menghindari hal tersebut. Dan selanjutnya dunia mencatat kelahiran orang yang sangat hebat dan shalih yang menjadi rujukan dunia dalam bidang ilmu agama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar