Perintah Belajar Sejarah Dalam Surat al-Fatihah The Power of History (bag. 1)

Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur'an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.
Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Qs. al-Fatihah: 6)
Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;
1. Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
2. Kelompok yang dimurkai Allah
3. Kelompok yang sesat
Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut.
Kelompok pertama, generasi yang merasakan nikmat Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا * ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا
"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Qs. an-Nisa: 69-70)
Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui."
Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini.
Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada' dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal.
Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan.
Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya.
Kelompok kedua, mereka yang dimurkai Allah.
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai.
Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman.
Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka.
"Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian...." kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang bedakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka'ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil.
Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur'an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak.
Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya.
Kelompok ketiga, mereka yang sesat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan.
Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal.
Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.
Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Qs. at-Taubah: 31)
Kisah' Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas,
عن عدى بن حاتم رضى الله عنه قال أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وفي عنقي صليب من ذهب قال فسمعته يقول (اتخذوا احبارهم ورهبانهم اربابا من دون الله) قال قلت يارسول الله انهم لم يكونوا يعبدونهم قال اجل ولكن يحلون لهم ما حرم الله فيستحلونه ويحرمون عليهم ما احل الله فيحرمونه فتلك عبادتهم لهم
Dari 'Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: (Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah)
Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu.
Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani)
Bagaimanakah mereka masyarakat nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan peradaban dunia?
Semuanya dicatat oleh sejarah.
Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita.
Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan.
Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting kita memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini.
Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita;
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
Cahaya Motivasi The Power of History (bag. 2)

Bukan tentang agama yang mereka perbincangkan. Bukan pula tentang masalah umat yang mereka diskusikan. Mereka sedang bermimpi bersama. Mimpi dalam keterjagaan. Bukan mimpi bunga tidur. Mimpi yang akan menjadi landasan kuat untuk mereka berkarya.
Majlis orang-orang shalih itu dibuka dengan kata: tamannaw (bermimpilah!). Abdullah bin Zubair memulai: Saya ingin mendapat kekhilafahan.
Selanjutnya, 'Urwah menyahut: Saya ingin menjadi tempat mengambil ilmu.
Mush'ab pun menyampaian keingnannya: Saya ingin memimpin Irak dan menikahi dua wanita; Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti al-Husain.
Dan ditutup oleh Ibnu Umar: Adapun saya menginginkan ampunan Allah.
Dan berikut ini penjelasan adz-Dzahabi yang menukilkan kisah tersebut dari jalan Abu az-Zannad, "Mereka semua mendapatkan impian mereka dan sangat mungkin Ibnu Umar telah diampuni dosanya." (Siyar a'lam an-Nubala' 2/141)
Begitulah, semua berawal dari mimpi. Selanjutnya, Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah. 'Urwah yang dikenal sangat dekat dengan Aisyah radhillahu anha, benar-benar menjadi ulama tempat masyarakat mengambil ilmu. Mush'ab bin Zubair memimpin Irak dan menikahi dua wanita pintar, shalih dan cantik di zamannya itu. Hanya permintaan Abdullah bin Umar yang tidak bisa kita saksikan buktinya. Karena ampunan Allah merupakan sesuatu yang ghoib. Tetapi seperti penjelasan adz-Dzahabi, Ibnu Umar sangat mungkin telah diampuni Allah. Bagaimana tidak, siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Umar dan keshalihannya.
Mari kita lihat perjalanan hidup seorang Abdullah bin Zubair, dari mimpi besar hingga mencapai puncak tertinggi dari kekuasaan pemerintahan Islam. Tidak ada ambisi yang membuatnya lupa daratan. Tidak ada syahwat tersembunyi terhadap kekuasaan hingga ia gadaikan agama dan umatnya. Tidak ada. Perjalanannya sangat alami selayaknya seorang muslim baik yang berkualitas pemimpin dunia.
Sejarah menyebutnya sebagai seorang ahli ilmu yang zuhud, ahli berkuda Quraisy, pemberani pilih tanding. Bergabung dalam Perang Yarmuk saat masih remaja. Ia juga ikut dalam jihad menaklukkan Afrika, Maroko, Konstantinopel dan sebagainya.
Sejarah juga menyebutkan bahwa Aisyah yang minta dipanggil dengan Ummu Abdillah (ibunya Abdullah) -padahal Aisyah tidak dianugerahi keturunan-, mengambil dari nama keponakannya ini. Begitu kecintaan dan kedekatan seorang ummul mukminin pada calon orang besar itu.
Masa hidupnya di Madinah dilaluinya sebagai seorang muslim, mujahid, ahli ibadah. Di sela-sela hidupnya inilah ia sematkan mimpi yang diukir bersama tiga orang teman baiknya di Hijir Ismail. Tidak ada kampanye, yang ada adalah membangun diri menjadi hamba Allah sejati. Tidak ada intrik politik, yang ada adalah membangun integritas diri.
Begitulah perjalanan hidupnya. Hingga Khalifah masa itu, Muawiyah bin Abi Sufyah meninggal dan digantikan oleh anaknya Yazid bin Muawiyah. Menurut ijtihadnya, Yazid tidak layak menjadi khalifah mengingat masih sangat banyak orang yang lebih hebat dan layak untuk menjadi pemimpin tertinggi pemerintahan Islam masa itu. Tidak ada rekayasa pada pendapat Abdullah dan Abdullah memang benar. Para ahli sejarah pun mempunyai pembahasan panjang tentang kelayakan seorang Yazid untuk menjadi khalifah. Abdullah tidak sendirian dengan pendapatnya itu. Begitulah rencana Allah dijalankan untuk mencapai mimpi bersama yang pernah disematkan Abdullah. Inilah jalannya.
Saat Yazid meminta baiat dari penduduk Madinah, Abdullah menolak dan ia meninggalkan Madinah menuju Mekah tempat ia mendeklarasikan dirinya menolak kekhalifahan Yazid dan meminta masyarakat membaiat dirinya. Yazid mengirimkan pasukannya di Madinah, tetapi gagal menghentikan Abdullah. Hijaz (Mekah, Madinah dan sekitarnya), Yaman, Mesir, Irak, Khurasan dan sebagian besar Syam akhirnya membaiat Abdullah bin Zubari sebagai khalifah tahun 64 H. Pemerintahannya berlangsung cukup lama. Hingga Bulan Jumadil Ula tahun 73 H, ketika ia terbunuh di tangan Hajjaj bin Yusuf dengan manjanik di samping Ka'bah yang mulia. Umurnya saat itu telah mencapai lebih dari 70 tahun.
Sebagian besar ahli sejarah menyatakan bahwa kekhilafahan Abdullah bin Zubair legal dan sah secara hukum. Mengingat bahwa sebagian besar wilayah Islam tunduk di bawah pemerintahan Abdullah. Di antara para ahli sejarah tersebut adalah Ibnu Katsir, Ibnu Atsir dan ath-Thabari.
Saat Abdullah membuktikan mimpi hidupnya, saat itulah ia pun menjadi jalan bagi saudaranya Mush'ab bin Zubair yang saat itu bermimpi ingin memimpin Irak, untuk membuktikan mimpinya. Abdullah menyerahkan kepemimpinan Irak kepada saudaranya itu.
Hari ini, banyak orang yang tidak sanggup sekadar bermimpi besar dalam hidupnya. Padahal tidak ada yang melarang, tidak pula bayar alias gratis seratus persen. Ketidakberanian itu disebabkan ia sedang mengukur kemampuannya saat ini yang mustahil mencapai mimpi yang terlalu besar. Keterbatasan sering menjadi penghalang untuk seseorang bermimpi besar. Padahal, bagaimana ia akan sampai pada sesuatu yang tiada pernah diimpikannya sepanjang hidupnya. Minimalnya adalah bersitan dalam hati dan fikirannya, walau mungkin hanya sesaat dari sekian juta jam yang ia miliki.
Membaca sejarah orang-orang besar Islam terdahulu bisa menghadirkan motivasi. Banyak orang besar hadir dari keterbatasan di masa lalunya. Miskin, bukan orang terpandang, yatim, dari keluarga biasa. Tetapi mereka mengantongi semua variabel kebesaran yang tergabung dalam dua kata: Iman dan ilmu.
Iman terus dibangun dan ditebalkan seiring semakin bertambah dekatnya ia dengan Allah. Dan ilmu terus ditingkatkan, hingga ia layak menjadi pemegang urusan muslimin. Dan akhirnya, sebab yang telah diraihnya mendatangkan hukum kausalitas dan janji Allah. Hukum kausalitas itu berbunyi: Mereka yang layak, yang layak mengambil posisi layak. Dan janji Allah tercermin dalam ayat ini,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. al-Mujadilah: 11)
Benar, seperti penutup ayat agung tersebut; Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada yang terlewatkan dari ilmu Allah berupa usaha maksimal untuk meningkatkan iman dan ilmu. Allah melihat semuanya. Allah Maha Mengetahui usaha maksimal dan Maha Mengetahui kapan saatnya janji itu diberikan.
Begitulah sejarah menjadi motivasi yang luar biasa. Di semua wilayah hidup. Saat kita menginginkan peningkatan ibadah, bacalah sejarah ibadah orang-orang besar dalam sejarah. Saat kita ingin semangat menuntut ilmu. Saat kita ingin menikmati kelelahan dalam mendidik generasi. Saat kita ingin menjadi keluarga pengukir peradaban di tengah keterbatasan hari ini. Apapun motivasi yang ingin kita dapatkan, tinggal membaca sejarah dan sejarah akan merayapi seluruh dinding hati kita membangkitkan motivasi.
Saat motivasi bukan barang murah hari ini, mengapa tidak kita buka saja sejarah untuk mendapatkannya.
Cahaya Solusi The Power of History (bag. 3)

Di pinggiran sumber air al-Muraisi'. Ketika Jahjah al-Ghifari dan Sinan bin Wabar al-Juhani berdesakan untuk mengambil air. Al-Juhani berteriak: Wahai masyarakat Anshar..! Jahjah pun berteriak: Wahai masyarakat Muhajirin..! Keduanya berteriak meminta tolong sukunya masing-masing. Teriakan yang bisa menumpahkan darah sesama muslimin.
Begitulah, walau mereka hidup bersama Rasulullah, mereka tetaplah manusia dengan segala kekurangannya. Apalagi suasana kelelahan fisik selepas perang, membuat orang mudah marah oleh masalah yang amat sepele. Apalagi mereka berdua bukanlah orang yang seistimewa Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Zubair.
Abdullah bin Ubay bin Salul tokoh munafik yang waktu itu ada, marah mendengar peristiwa tersebut. Inilah kalimatnya yang kasar dan provokatif di tengah-tengah pengikutnya dan sebagian shahabat:
"Benarkah mereka (Muhajirin) telah melakukannya? Mereka itu lari (dari negerinya) dan kemudian semakin banyak di negeri kita. Demi Allah, tidaklah kita dan mereka itu kecuali seperti ungkapan: Buatlah gemuk anjingmu, kamu akan dimakannya!
Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, yang mulia akan mengeluarkan yang hina darinya."
Tidak puas dengan kalimat-kalimatnya ini, Abdullah bin Ubay langsung menghadapkan dirinya kepada para pengikutnya sambil terus marah:
"Ini salah kalian sendiri, kalian memberi tempat mereka di negeri kalian, kalian bagi harta kalian untuk mereka. Demi Allah, jika kalian tidak memberi untuk mereka apa yang kalian miliki, pasti mereka akan pergi ke selain negeri kalian."
Itulah sepenggal kisah konflik yang memilukan. Terjadi di dalam tubuh muslimin yang sudah sangat lama bersaudara karena Allah. Mereka dahulu saling berbagi. Saling memberi. Bahkan saling mendahulukan saudaranya berlandaskan cinta karena Allah. Konflik itu kini muncul.
Perlu sebuah solusi jitu. Jika tidak, bisa menyebabkan pertikaian dan mungkin pertumpahan darah. Tidak dibiarkan redam sendiri, karena hanya akan menambah kusut rajutan persaudaraan.
Umar bin Khattab yang mengetahui konflik tersebut, segera menawarkan solusi kepada Rasul. "Bunuh Abdullah bin Ubay bin Salul!" usul Umar.
Sekilas usulan Umar masuk akal. Abdullah bin Ubay yang merupakan tokoh munafik berikut para pengikutnya, bukanlah kelompok yang berani berhadapan langsung dengan Umat Islam. Mereka bersembunyi di balik selimut shaf muslimin. Umar ingin menghentikan sumber masalah. Supaya aliran masalah terhenti. Dengan jaminan, tidak akan pernah ada perlawanan dari para pengikutnya. Mengingat mereka bukan kelompok berani. Apalagi jika pembunuhan itu dilakukan atau diijinkan oleh Rasul, maka pasti para shahabat akan ada di pihak Rasulullah.
Ternyata, Rasul menolaknya. Dengan pertimbangan yang matang dan jauh ke depan. Berikut pertimbangan Nabi tidak mengambil usulan Umar:
"Bagaimana wahai Umar jika masyarakat berkata bahwa Muhammad membunuh shahabatnya sendiri? Tidak! Tetapi perintahkan semua untuk berangkat pulang!"
Berangkat pulang ke Madinah. Itulah salah satu langkah penting penyelesaian yang akan ditempuh Nabi.
Selengkapnya, sesuai dengan urutan solusi Nabi adalah sebagai berikut:
1. Tidak menyebarkan kalimat provokasi munafik yang telah sampai kepada beliau melalui shahabat muda Zaid bin Arqam. Karena kekacauan dan fitnah akan meluas. Terbukti, hingga Nabi memerintahkan agar pasukan bergerak pulang, tokoh Madinah sekelas Usaid bin Hudhair pun tidak tahu. Dia hanya terheran-heran, mengapa Nabi memberangkatkan pasukan tidak pada waktu yang biasa.
2. Mengeluarkan kalimat tegas yang mudah diingat sebagai peredam awal: Apakah (kalian masih pertahankan) slogan jahiliyyah sementara aku masih ada di antara kalian? Kalimat seperti ini pasti tidak akan kuat menyelesaikan fitnah yang sudah mulai membesar. Tetapi ini berfungsi untuk mengingatkan para shahabat sekaligus meminimalisir konflik.
3. Memerintahkan mereka agar pergi meninggalkan tempat terjadinya konflik. Hal ini berhubungan dengan masalah psikologis. Terkadang suatu kenangan yang sudah lama sekalipun akan kembali muncul dengan segala rasanya, ketika melihat kembali tempat terjadinya masalah tersebut. Maka dalam suasana tegang seperti itu, penting sekali untuk meninggalkan tempat konflik dan berpindah ke tempat lain.
4. Melemahkan fisik mereka agar tidak sempat membesar isu buruk itu di tubuh umat. Karena mereka tidak lagi punya energi untuk memikirkannya apalagi menggalang kekuatan perpecahan.
Perjalangan dilakukan sepanjang siang hari itu. Terus berjalan tanpa istirahat dari kelelahan, hingga masuk waktu malam. Perjalanan diteruskan hingga pagi, tanpa istirahat. Dan diteruskan hingga matahari mulai meninggi. Perjalanan itu kurang lebih memakan waktu 24 jam, tanpa istirahat kecuali untuk shalat yang dijama' qashar.
5. Dibacakannya surat al-Munafiqun yang turun untuk menjelaskan sekaligus menjadi penutup besar yang menggema menjelaskan dengan gamblang sumber konflik.
Itulah 5 langkah yang dilakukan Rasulullah untuk menyelesaikan konflik yang muncul antar muslimin yang sudah lama bersaudara dan berukhuwah sangat baik.
Dengan kondisi:
- Keberadaan musuh dalam selimut (munafik).
- Fisik yang lelah.
- Kemarahan dan mencuatnya fanatisme kesukuan/golongan
Setelah turun ayat yang merupakan rangkaian penyelesaian konflik, masyarakat bisa menilai sendiri. Bahkan setelah itu, jika terjadi kasus yang menyangkut Abdullah bin Ubay, masyarakatnya sendiri yang langsung mencercanya. Di saat itulah Rasul menyampaikan kepada Umar: Bagaimana pendapatmu sekarang hai Umar, Demi Allah jika aku bunuh dia saat kau usul, pasti akan muncullah fanatisme golongan. Tetapi jika aku perintahkan hari ini, pasti ia akan dibunuh.
Dan inilah yang keluar dari lisan jujur Umar: Urusan Rasulullah lebih berkah dibandingkan urusanku.
Mari kita analisa lebih jauh solusi sukses Nabi tersebut. Mungkin menurut sebagian kita, jika telah jelas sumber kalimat fitnah itu, mungkin shahabat menjadi mafhum bahwa perpecahan itu sumbernya adalah musuh, sehingga mereka tidak perlu ambil peduli. Dan masalah tidak perlu dikhawatirkan. Tetapi tidak, masalahnya adalah api fanatisme golongan dan kesukuan itu telah membakar dan tak bisa dipadamkan. Atau kalau pun bisa, sebagian akan menjadi api dalam sekam. Suatu saat akan menyala kembali. Nabi ingin semuanya selesai dengan tuntas.
Nabi bisa saja menyampaikan sendiri kepada para shahabat bahwa sumber masalahnya adalah munafik. Tetapi tidak disampaikan nabi mengingat sebagian orang Anshar meragukan pendengaran Zaid bin Arqam yang mendengar langsung ocehan Abdullah bin Ubay. Karena ia terhitung masih beliau. Jangan-jangan, Zaid tidak begitu memahami kalimat tokoh munafik itu.
Jika Nabi memaksakan diri menyampaikan apa yang didengar Zaid, maka akan muncul masalah baru. Yaitu pembelaan Nabi terhadap Zaid yang diragukan oleh banyak shahabat Anshar yang telah lebih senior. Maka ayatlah yang menyampaikan langsung.
Bagi kita yang tidak lagi mendapatkan wahyu turun, bisa mengambil pelajaran bahwa menyelesaikan konflik tidak mesti harus dimulai dengan ayat. Karena saat masalah masih sedang membara, kemudian ayat dibaca, justru dikhawatirkan orang-orang baik yang sekarang sedang bermasalah itu kalap dan secara tidak langsung menolak ayat.
Pendinginan masalah dimulai dengan bertahap. Setahap demi setahap, hingga suasana benar-benar mendingin. Dan guyuran salju wahyu yang putih menjadi happy ending.
Solusi konflik tersebut terlihat sangat berbeda, ketika kita membandingkan dengan kisah yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 2231 dan Muslim no. 2357,
Dari Abdullah bin Zubair radhiallahu anhu berkata, "Seseorang dari Anshar mengadukan Zubair kepada Nabi pada masalah aliran air yang mengaliri kebun korma mereka berdua. Orang Anshar itu meminta agar air dibiarkan mengalir ke kebunnya, tetapi Zubair menolak. Mereka berdua berseteru di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Rasul memerintahkan kepada Zubair: Airi kebunmu wahai Zubair kemudian setelah itu kirimkan airnya ke tetanggamu.
Orang Anshar itu marah, "Apakah karena ini keponakanmu?"
Berubahlah wajah Rasulullah kemudian berkata, "Wahai Zubair airi kebunmu kemudian tahanlah air itu hingga meresap ke dalam tanah."
Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi menjelaskan bahwa tanah Zubair berada lebih tinggi dari tanah orang Anshar tersebut. Sehingga air akan mengairi kebun Zubair sebelum kebun orang Anshar itu. Dengan demikian, Zubair yang lebih berhak terhadap air.
Tetapi Nabi memerintahkan Zubair agar berbagi dengan kebun tetangganya. Dan kemarahan orang Anshar yang tidak menerima keputusan Nabi itu menyebabkannya mengeluarkan kalimat yang menyentuh hingga kesucian nubuwwah. Maka, kemudian Nabi mengeluarkan keputusan yang bernuansa hukuman bagi yang tidak menerima keputusan Nabi sekaligus hakim.
Konflik internal ini ada sisi kemiripannya dengan konflik internal selepas perang Bani Musthaliq di atas. Yaitu sama-sama dimulai antara satu orang Muhajirin dan satu orang Anshar.
Tetapi ada beberapa perbedaan:
- Tidak ada musuh Islam di antara Zubair dan orang Anshar itu. Berbeda dengan keberadaan munafik di antara muslimin di Bani Musthaliq
- Tingkat kelelahan fisik yang berbeda dengan kelelahan muslimin saat di Bani Musthaliq.
- Tidak diketahui secara masal.
Jadi, dua masalah ini mempunyai tingkat kerawanan yang berbeda.
Dari sinilah maka penyelesaiannya pun berbeda. Bagi Zubair yang merupakan shahabat mulia akan dengan sangat mudah kembali berbagi dengan saudaranya dari Anshar tersebut. Dan bagi orang Anshar dia sudah belajar bahwa hukum Rasulullah adalah hukum yang terbaik. Masalah ini akan selesai dengan sangat mudah dan sederhana.
Solusi yang bukan berasal dari Islam telah terbukti runtuh. Semakin hari semakin redup kemudian padam. Dan hanya solusi dari Rasulullah yang berupa cahaya. Terang, semakin terang dan akhirnya akan sempurna.
Maka, sangat penting untuk mengkaji siroh lebih dalam agar mampu menangkap cahaya solusi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar